Ini cerita tentang seorang cewek yang gue temuin 3 tahun lalu melalui perspektif gue.
Warning : Apapun yang ditulis disini hanya terjadi di momen itu, dan bukan di momen sekarang. No offense untuk siapapun yang baca.
Gue masih inget, waktu itu 2016. Tahun yang menurut gue masih gelap pada masanya. Gue masih terjebak di suatu hubungan yang ga gue senengin dan gue harus jadi 'pengikut' orang yang gue ga senengin kemanapun dia pergi. Hari itu ada event di daerah Pluit, World of Gaming a.k.a WOG. Karena gue diharuskan ada untuk nemenin orang yang ga gue senengin kemanapun, gue datang ke event itu. Pada masa itu, gue sejujurnya menemukan titik cerah dimana gue mulai kenal Kanaya dan gue tau gue mau kemana kalo gue bisa lepas dari hubungan yang bikin gue lelah, tapi itu belum waktunya. Dramatically, waktu itu Kanaya vs Pondok Gaming AVS meet on stage dan pihak gue kalah. Disitu gue ada sisi puas karena orang yang ga gue senengin kalah dan Kanaya menang, tapi juga sedih karena yang tryhard untuk menang di PG AVS ga cuma seorang. So, 50:50. Disaster itu dimulai setelah udah kalah, orang yang ga gue senengin ngamuk di lobby Pluit Mall waktu itu dan ngusir 4 orang sisanya untuk balik ke hotel. Gue? Ya seperti biasa gue gaboleh ikut mereka dan gue harus tetep ada nemenin satu orang ini di mall (oh iya, maksanya sambil maki-maki pula. inget ini bikin gue rolling eyes). Rasanya jiwa gue udah mau keluar aja karena gue ga menikmati situasi di event itu. Gue mau pulang.
Disela-sela spacing outnya gue ditempat itu, gue duduk entah di deretan mana. Gue gapeduli, yang penting gue duduk, dan orang yang gue ga senengin terserah mau ngobrol sama siapa atau kemanapun. Gue gapeduli. Gue hanya lelah. Lalu pas gue duduk disitu ada seorang cewek yang menyapa gue dengan senyum.
Dia : "Hai, namanya siapa?"
Gue : "Halo. alin. Lo?"
*ini gue jawab singkat karena gue ga tertarik dengan percakapan setelah semua hal yang udah terjadi hari itu*
Dia : "Jessica. Cici main games juga?"
Gue : "Iya, Dota 2. Kalo lo main games apa?"
Dia : "Wah sama! Aku juga main Dota. Eh ini kenalin samping aku, ini adikku. Dia main dota juga."
Disitu gue kenalan, habis itu gue lupa apa lagi yang terjadi. Gue cuma ngobrol basa basi sekilas dan gue kembali spacing out. Galama habis itu, gue pindah tempat duduk, dan gue hanya ikutin si 'God' yang mengatur-ngatur gue kemanapun dia melangkah. Pas udah malem dan gue duduk di emperan mall gue ngereka ulang apa aja yang gue udah laluin di hari ini dan terbesitlah soal cewek itu di pikiran gue. Akhirnya gue bertanya ke 'God' saat dia sibuk ngoceh gapenting tentang teman-temannya yang performanya buruk hari ini, "Cewek itu sebenernya siapa?", dan si 'God' menjawab "Dia ceweknya si X". Dalam hati, gue langsung "Oh". Kemudian gaada lagi yang gue pengen tanyakan, yang gue inget cuma senyumnya yang secerah matahari, dan keramahannya yang gakenal siapapun batang hidungnya. No enemies indeed. Perfect kind of woman. Kebalikan dengan gue yang super keruh ke siapapun saat itu.
Setahun berlalu. 2017 datang. Akhirnya gue lepas dari semua hal yang mengekang gue.
Kanaya bubar, mencar jadi beberapa tim yang berbeda. Life goes on. Gue diterima di UI, dan gue menjalani hidup hectic gue menjadi maba lagi. Suatu waktu, Tri lagi libur dari boom dan nginep di barackx. Ramzi dan kawan-kawan ikut turnamen kampus. Gue cuma denger kabar itu via chat dan gue ketawa karena tumben-tumbenan ramzi ikutan yang kayak gitu. Galama setelah itu, gue denger cerita dari Tri tentang seorang cewek yang jago main Enchantress, punya passion besar di dota, dan dia lucu. Jarang buat seorang Tri ngomongin cewek, dan gue jadi sangat tertarik dengan siapa sosok orang yang dia omongin itu. Katanya dia punya tim, dan dia kenal Cheryl, temen lama gue. Namanya Jessica. Dia juga yang bikin Ramzi mau ikutan turnamen. (HAHA, dan lucunya ya Ramzi terlalu obvious. Gue langsung ngeh bahwa Ramzi punya ketertarikan sama cewek ini). Berhubung di turnamen itu ada beberapa kejadian yang diceritakan pas gue nongkrong sama mereka, akhirnya terdoronglah gue untuk nge-stalk siapa Jessica. Gue cukup antusias karena gue niat kenalan setelah denger tentang dia yang punya passion sama dota.
Clicking , scrolling the photos. Butuh waktu cukup lama buat gue menimbang-nimbang apa gue pernah liat sosok perempuan ini sebelumnya. Cukup lama sampe akhirnya gue bener-bener ketemu langsung di sebuah warnet cafe di daerah Jakarta Barat. Gue request Tri untuk ikutan nongki karena rasa penasaran gue yang besar soal Jessica. Akhirnya kita makan di Pizza Hut tepat disebrang warnet cafe yang pertama kita ketemu. Gue ngobrol, bercanda, dan tentunya ngecengin Tri karena gue tau apa yang dia rasain ke Jessica. Kesan gue saat pertama kali ngobrol banyak, gue langsung ngerti kenapa dia adorable banget dan asik untuk dijadikan teman. Gue seneng karena dia orang yang baik. Galama sebelum cabut dari Pizza Hut, dia bilang 'Cik, kita kan pernah ketemu dulu.'. Gue kaget. Gue mencoba inget ulang tapi gue gatau kapan dan dimana. Akhirnya , gue nanya 'Oh iya? Kapan?', dan kemudian dia jawab 'Itu loh yang event WOG di Pluit. Aku yang ngobrol sama cicik pas lagi duduk.'. Yang ini gue speechless. Gue bisa lupa sama sosok dia selama setahun, dan malah dia yang inget gue, padahal keberadaan gue disitu waktu itu rasanya udah kayak hantu aja. Pengen ngilang. Gue lupa betapa samanya dia setelah setahun berlalu dan berbedanya gue setelah setahun berlalu. Dia bikin gue sadar bahwa dunia ini sempit. Gue dipertemukan dengan dia di dua fase yang berbeda 180 derajat, dan gue kagum karena dengan gue yang berbeda pun dia tetep seasik kayak pertama kali kita ketemu di WOG.
Hari berlalu, bulan berlalu. Gue jadi temen yang iseng nongki sama dia kalo sempet, main dota party untuk fun, juga janjian kalo ada event di mall. Semuanya berlalu gitu aja. Tapi masih ada dinding antara gue sama dia, karena dengan gue yang traumatik deket sama cewek, gue gabanyak cerita soal diri gue. Sampe suatu saat di sebuah event di Taman Anggrek Mall, dia buka conversation. Saat itu kita baru balik dari kamar mandi dan mau turun lewat eskalator.
Dia : "Cik, cicik kenal 'God' kan?
Gue : "Iya kenal, dia mantan gue. Kenapa?'
Terjadilah cerita panjang soal apa yang si 'God' lakuin sehingga bikin seorang Jessica kesel dan ga nyaman. Disitu gue gahabis pikir , kenapa bisa orang kayak dia malah kesangkut masalah yang menyebalkan kayak gitu. Berhubung gue belum lama kenal dia dan saat itu si 'God' masih stalk snapgram dan ig gue, gue pun planning a revenge. I'm asking her to take selfie with me and i would like to upload it on the instagram. Kerennya, she's cool with it. Then we go for a revenge. I tagged her as if we're a really good friends. Dan gue pun mulai terbuka sedikit sama apa yang gue laluin juga selama kenal sama 'God'. Lama gaketemu, habis itu dia liburan, dan dia bawain gue oleh-oleh dream catcher with a cute message on top of it. Gue terpikirkan untuk beliin dia souvenir balik. Sejujurnya gue cukup heran kenapa dia mau beliin gue , ramzi, dan yang lainnya souvenir padahal kita belom lama kenal. Kenapa ada orang yang se-humble itu ke orang yang baru dikenal. Gue yang takut dia fake ke gue kayak orang yang lainnya, mulai ngubah pandangan gue ke dia. What i really thought is, she's a good person in every perspective. Dia ninggalin kesan yang bagus untuk gue yang bahkan selalu mikir bahwa gaul sama sesama cewek sekedar untuk business aja, nothing personal.
Waktu terus berlalu, dan sekarang 25 Juni 2019, gue udah laluin hal-hal lucu sama dia. Hang out kalo lagi sempet, ketawa, nangis, nginep bareng, ngomong kasar kalo kesel, bawel ditelfon kalo lagi butuh temen cerita, dan planning on a trip if we get a chance. Gue pun mulai kenal bahwa dia melalui banyak masa sulit selama ini dan ga se-perfect yang orang kira. She struggles so hard, and i thank her for trusting me with every stories she holds on herself since forever. Oh right, here it is.
"Happy Birthday Sunshine.
"Happy Birthday Sunshine.
May God always bless you with His grace. Keep being you, lessen the fake, talk loudly, hold strongly, smile brightly, and don't forget to thank every moment you had till now. Don't ever escape despite any situation you face. Makasih udah jadi temen yang bisa nangis buat gue, ketawa sama hal yang receh, cengengesan untuk menghindari badmood, dan random karena bisa nyablak gaada angin gaada hujan. Jangan pernah capek untuk jalanin kuliah karena gue percaya, rutinitas yang menyebalkan mempertemukan lo dengan orang-orang yang mau nemenin lo disela-sela rutinitas lo itu. Keep fighting, gue lebih suka lo ngeluh tapi sambil tetep lakuin semuanya. Karena power lo disitu. Kembangin semua kreatifitas lo saat ini dan selesain semua yang memberatkan lo supaya lo cepet bebas. Gabanyak yang bisa gue katakan karena seperti biasa, gue gapinter nyusun banyak kata. Woof you always."
Your Admirer,
Alin
Thanks to you , gue percaya sama apa yang namanya takdir. Gue ketemu lo 3 tahun yang lalu dan sekarang gue bakalan mulai menghitung pertemanan kita setiap tahunnya. Gabanyak yang bisa gue kasih, semoga lo tetep mau temenan sama gue kedepannya. Daaaaan jangan pernah nyalahin diri sendiri dalam waktu yang lama. Semoga langgeng sama Rey. Doa gue menyertai.