Senin, 15 April 2019

Reset

Monday, 15th April 2019
Dear Diary,

Hari ini gue memutuskan untuk memulai semuanya dari nol lagi. Gue masih mikir apakah ini sekedar gue yang mendadak ga mampu ngendaliin emosi gue sendiri beberapa bulan ini atau emang kondisi gue yang sekarang lagi ngepressure di segala sisi. Saat pergantian tahun kemarin, gue netepin goal hidup gue sekaligus pencapaian kecil apa yang bisa gue improve seiring waktu. Di malam tahun baru itu, gue cuma berdoa biar gue jadi pribadi yang lebih besabar, ga over-thinking, dan lapang dada. Baru 4 bulan berjalan dan ternyata semuanya berantakan. Gue merasa diri gue diuji melebihi batas kemampuan gue. I can't handle shit as if i've never face it before. It's like i'm walking in a whole loop with a rigid road. Everything's at the bottom felt so hard and broke. 

Bukan pertama kalinya buat gue ngalamin perbedaan , pengasingan, ataupun penghianatan. Mungkin ini kedengeran lebay, tapi itulah yang gue lewatin sepanjang 4 tahun kebelakang. Yang ngebuat gue ngerasa gue kembali ke titik nol adalah karena gue ga mampu nge-hold semua yang gue rasain kayak biasanya. I distrust people. A lot. Even the closest one feels like a sharpened words day by day. Alam bawah sadar gue sebenernya tau bahwa gue sebenernya ga se-miserable itu , masih banyak yang peduli dan nyemangatin gue. Tapi kenapa bahkan kata-kata : "have a nice day!" , "semangat!" , "lo pasti bisa." terasa klise buat gue?

Spending my time to think about it, gue nemu akar masalahnya dimana. Semua ini diawali dari hal yang terulang lagi, untuk kedua kalinya. Ini soal gue yang mencoba mendekatkan diri gue ke kodrat gue sebagai perempuan. Gue nyoba untuk senormal mungkin dengan bergaul akrab sama sesama cewek. Ngebuka pintu hati gue buat nyambut orang yang mau masuk ke kehidupan gue. Seperti yang udah - udah, 4 bulan berlalu and things didn't go well as i expected. I fight for no particular reason and i didn't even understand why she start the fire. Hal ini bukan soal apa yang dia lakuin bikin gue nyelekit, tapi kenyataan bahwa gue cukup bego untuk bisa sampe ada di kondisi ini. Fakta bahwa gue itu cuma kambing dongo yang ga dengerin nasihat orang lain sebelum gue ngambil keputusan gue. Gue gagal lagi. Gue gagal mencegah diri gue sendiri terlibat sama masalah yang gaperlu. Itu ngelukain harga diri gue. I've been trying to tell myself to focus on my own priorities and forget the unimportant issues. It's been 2 months and i can't get over the fact that i failed myself. Gue mikir dan mikir dan mikir dan mikir terus : Salah gue apa? Kurang gue apa? Apa gue gapernah berubah ke arah yang lebih baik? . Gue jadi ragu sama diri gue sendiri. 

Selain itu ada kondisi yang mendukung gue makin ngerasa diri gue worthless. Iya, cara orang memperlakukan gue. Gue selalu ngerasain perbedaan drastis dari orang-orang tertentu dalam memperlakukan orang yang gue peduliin dan diri gue. Perbedaannya jauh, dan gue selalu ngerasa gue terlihat buruk / ga baik seolah gue pernah bikin kesalahan fatal sebelumnya. Jujur, ini ngebuat gue sakit hati setiap kali gue harus keluar dari lingkaran gue sendiri. Gue gasuka dipandang buruk. Gue takut dipandang buruk. Whenever that kind of situation happens, i feel like, i have no place to stand. Nowhere to go. I'm on my own feet. Gue emang ga minta semua orang untuk suka sama gue, tapi suka atau gasuka , haruskah gue tau? haruskah gue ngerasain apa yang lo rasain ke gue? Salah gue apa? Apa eksistensi gue yang salah disini? Did i even belong here? Dimulai dari lingkungan yang pernah terpaksa gue tumpangin selagi susah, sampe di circle gue sendiri. Gimana gue mau percaya sama orang lain. Gimana gue ga emosi sama hal-hal kecil yang bikin gue ngerasa gue ga dihargain atau gue ga sepenting itu. Gimana gue ga muak sama kondisi gue. Gimana gue mau hidup positif dan tetep jalanin semua tanggung jawab gue kalo gue ngerasa gue gapunya apa-apa dan siapa-siapa. Gue hampa. Yang gue rasain di diri gue cuma sakit, yang ada di otak gue cuma semua kejadian yang udah-udah dan fakta bahwa gue survive sendirian. 

Maka dari itu gue memutuskan untuk nge-reset hidup gue. Sampe akhirnya gue bangun dan sadar sama apa yang bener-bener gue punya dan apa yang cuma sekedar kesempurnaan yang gue kejar. Maaf kalo mental gue lemah. Gue minta maaf. Tapi gue lelah. I'm a human too, you know?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar