Manusia makhluk yang ambigu.
Bisa senang dan sedih secara bersamaan. Bisa merasa kesulitan saat awalnya merasa sesuatu itu mudah. Bisa menyanggupi lalu putus asa. Bisa menyelipkan kejujuran disela candaan atau kebohongan. Bisa merasa salah mengambil langkah padahal langkahnya benar. Bisa merasa sakit padahal terlihat sehat. Bisa terlihat tegar padahal lelah. Bahkan, ada yang terlihat dingin padahal peduli. Sulit ya? Semua orang merasakan hal yang sama. Atas dasar hal ini, di hidup gue gaada benar dan salah. Karena sudut pandang kehidupan gaakan pernah sama.
Tapi dari yang gue rasa, ga semua orang berpikir dengan cara yang sama. Ketika manusia merasa sakit hati, terkadang mereka lupa untuk melihat sekelilingnya. Lupa, sampai terkadang nyakitin orang lain juga. Ada yang sibuk dengan lukanya seolah-olah dialah yang paling tersakiti di dunia ini. Gue adalah salah satunya. Tanpa sadar, diri gue yang terus menerus fokus menyalahkan ketidakadilan yang gue alami di hidup gue secara galangsung ngelukain sekitar yang peduli dan sayang sama gue. Butuh waktu bertahun-tahun buat gue bangun ke kenyataan dan sadar bahwa gue harus berhenti. Tahun lalu adalah satu bagian pendewasaannya.
Jujur, nyakitin orang lain itu mudah. Memperbaikinya sulit. Gue belajar tentang hal ini. Tapi tau apa yang paling pait sekarang? Ketika gue akhirnya melalui fase itu, sekarang sekitar gue melakukan hal yang sama. Awalnya gue maklum. I don't really mind because every human have different phase of life, and I'm willing to accept the situation. Lama-lama gue mulai exhausted. Gue merasa dengan image gue yang kuat atau ga berperasaan, gue diremehkan. Seolah-olah perasaan gue gaada dan ga valid. Orang mulai lupa kalau gue manusia juga. Bisa sedih, bisa marah, bisa sakit hati, bahkan nangis. Atas dasar hal itu, terbentuklah diri gue yang terlihat emotionless dan ignorant. Gue merasa hak gue untuk mengekspresikan hal yang sama hilang, seolah-olah direnggut dari diri gue.
28 Februari 2021 memukul hidup gue. Ini bukan tentang semua kericuhan yang terjadi di hari itu. Tapi tentang fakta bahwa beberapa orang di hidup gue merasa bahwa perasaan sakit atau kecewa yang mereka rasakan patut untuk dirasakan berlarut-larut. Tentunya tanpa ngeliat sisi yang mereka anggap ngecewain mereka. Gue salah satu orang yang seems fine, but broken inside. Gue lelah liat orang yang terus menerus mengasihani dirinya sendiri. Seolah-olah gapunya andil kesalahan atas semua hal yang terjadi. Seolah bagian dari pilihan hidupnya yang dia tempuh ga memiliki resiko. Lalu semua itu jadi tanggungan orang lain. Tanpa dia sadar, ketika dia sibuk berbagi rasa sakitnya ke banyak orang di luar sana tanpa nyentuh akar masalahnya (dengan ngomong langsung ke sumbernya), dia merusak pandangan orang lain. Tiba-tiba peran antagonis ditentukan. Rasa rendah dan terinjak-injak nyelimutin hari-hari gue. Mau nangis disela ramainya kehidupan sekitar? Gabisa. Gaada air mata yang keluar. Apa orang lain tau? Engga. Ada juga orang yang merasa harapan yang dia bangun dalam beberapa bulan saja rusak. Padahal karena ekspektasinya sendiri dalam mencinta. Lalu orang yang tadinya ia hargai cuma jadi seonggok sampah di masa lalu. Ada lagi tipe yang paling gue benci. Manusia yang gatau cara berterima kasih. Manusia yang merasa hidupnya udah miserable enough sampe-sampe tanpa dia sadari, dia jadi manusia yang berharap orang memaklumi sifat dan kondisi dia. Gue juga susah, semua orang susah. Tapi gue gapunya waktu buat mikirin harga diri dan perasaan gue. Sedangkan di dia, it does matter. Percuma berdebat dengan orang bebal dan gatau dirinya andil berbuat salah. Orang-orang lupa kadang apa yang mereka anggap sebagai sumber kekecewaan mereka punya sisi lain. Sehingga siapa yang salah dan benar menjadi ambigu. Padahal, pada ujung ceritanya tidak ada yang perlu disalahkan. Semua yang terjadi memiliki alasan.
Sejak hari itu, gue makin freak. Ngelakuin olahraga dan menyibukkan diri sama tanggung jawab gue. Semua itu gue lakuin buat nge-distract diri gue yang udah merasa setengah gila didalem. Bertingkah seolah paling rajin, paling rutin, paling mencoba tertata, padahal rusak. Emang ada yang sadar? Bahkan diri gue aja menolak untuk sadar. Sampe sekarang pun gue masih melakukan hal yang sama di hidup gue, survive.
"Fokus, fokus, fokus. Gue sakit, gue hancur, gue kecewa. Semua ini salah dia." Itu yang terus menerus gue liat dari matanya. Ambigu bukan? Pada akhirnya yang dianggap sumber atau subjek masalahnya yang menanggung mentalnya sendiri. Mereka lupa perasaan satu orang, lalu membunuh karakternya. Lupa kalo bebannya berkali-kali lipat bagi dia yang dipermasalahkan. Seolah-olah barang dan bukan orang, padahal gue yakin dia punya pilihan hidupnya sendiri. Pilihan kebahagiaan seolah bergantung pada kebahagiaan orang lain. Gaberhak bahagia atau menjalankan pilihan hidupnya karena ada yang merasakan kesedihan. Kehidupan ambigu macam apa itu?
Ini adalah ambiguitas yang gue gatau sampe kapan akan terus berlangsung. Gue cuma menaruh harap dan doa bahwa semua orang berproses. Gue berharap seseorang jangan pura-pura buta akan perasaan orang lain. Sampai suatu hari, jawabannya datang. Seorang laki-laki berumur 40 tahunan pernah berbagi cerita hidupnya yang pahit. Kehidupan cintanya di masa muda, rumah tangganya sekarang, dan pilihan hidupnya. Hal itu membuat gue sadar pelan-pelan bahwa memang Tuhan ga menciptakan hidup yang mulus ke semua umatnya. Balik lagi apakah kita terima semua ini atau engga.
Satu quotes dari beliau yang mukul gue di malam itu dengan kondisi tangan gue yang bekas diinfus siang harinya:
"Lu jangan sok ngalah lin. Perasaan lu valid."
Lalu ambiguitas di hati gue pelan-pelan terlihat jelas. Ternyata gue hanya perlu berhenti memaklumi. Gue disuruh ngeliat diri gue sendiri yang mulai membusuk karena terus ngubur apa yang gue rasain. Gue disuruh bangun dan lebih jujur sama diri gue. Bahwa gue berhak marah, berhak sedih, berhak berpikir bahwa apa yang udah terjadi emang harusnya terjadi. Berhak meneriaki balik ke beberapa dari mereka "lo ngerti gue ga? pernah lo liat apa yang gue rasain? emang cuma lo di dunia ini yang terluka?"
Gue balik ke rumah malam itu juga dan merenung sama nasihat sebelumnya. Gue nangis di taksi. Nyampe rumah gue bergegas ngunci pager, pelan-pelan lari keatas supaya ga mengganggu tidur orang tua gue, ganti baju, cuci muka, sikat gigi, dan terduduk nangis di depan wastafel kamar mandi gue. Ternyata gue secapek itu. Galupa gue nelfon seseorang untuk ngabarin kalo gue udah sampe rumah dan bilang "kalo aku ketiduran gapapa ya", dan gue terlelap bareng semua air mata yang ngalir di muka gue. Gue tidur dengan tenang.