Selasa, 25 Februari 2025

Imprisoned

Dear diary,

I'm writing out my thoughts again. I'm tired trying to get control of my own feelings. Things which surrounded me lately is really unstable, bringing all the weird feelings with a mix of anger, sadness, disappointment, and a need to understand that it all has to be happened. Making myself vulnerable is hard, every bits of the feeling hurts me, opening each of unwanted wound i don't even want to feel. The feeling of unappreciated is getting bigger and bigger, a one-sided effort i put for each closest person which would not be acknowledged--or even return. I'm fully aware that universe has their own way to work, but God, i just lost track on how i can control myself.

I guess i need my safe space as always, learn to recollecting my thoughts, let my brain takeover the role in analyzing the situation, and bring a chance for me to have a conversation with myself.

I'm asking myself why i need to let everything being talked about while the truth is i just need a time to be alone. I once think it's good for the one i love that they can understand my thoughts or feelings, but it's just too much. Being honest about it means being ready in receiving the feedback, and i'm not good at swallowing all of it. Getting opposed, unsupported, feeling blamed, wronged, and being a bad person is haunting me. One said it's too much and seems mean, i said that was exactly how i felt through all the sudden bad things. Complexity of how bad it is and how people responses starts to blur to the point i don't understand on which one hurting me the most. 

I need to admit i hate being perceived as a bad guy. Holding a title too long ain't make me proud of it. And then i asked to myself: How is it so easy to make me the most sinful person on earth just because i let all my thoughts out at once? How is it so wrong? What's need to be hold on for? How is it easier for others splashing out all the anger and disappointment towards something without the need to think if what they did is too far?

I saw everything, even the worst type of anger expression. I saw how people trying to cope with things to the point it might harm them. I saw it, i learnt it. I'm telling myself not to get caught too much on it so i'm holding on. 

But why can't i? 

Why spouting many words are too much? What is the limitation of how you express all the words? Who sets it? I was raised in a harsh way, on how much should i adjust with the standards? 

These kind of thoughts killing me. Cause again, i'm feeling like i'm not allowed to. I don't have the rights to say the meanest words that i thought i might completely sends off the anger. At the end of the road, it's a self blame waiting to accompany me because someone said it's too much. By being too much is perceived as wrong. 

Who are you to judge my disappointment and sadness though?

To stop the bleed, i just need to be colder. I decide to let every pains comes in and telling myself that "maybe next time the things happened are unintentional too, so don't be hurt by it. You know and you can understand it".

I'm wondering on which actions i actually do now. Do i strengthen the bridge? Or do i burn the bridge just like how i always do?

This imprisoned feelings of mine, where will i bring it in the end?

Jumat, 17 Januari 2025

Singapore Feeling

Endlessly seeking for nothing,

apologize that nowhere to be seen.

Memory starts to rewind,

all the temporary time that cannot be bought

then here comes the crossing trail,

the truth that can only be seen by a glimpse of glass.

I fell that night on the road,

with all the lights and the horns,

with everyone eyes locked, "What happened with her?",

and the sprain which I brought everywhere on the next few months,

and the wound in my heart wide open,

longing for the existence of the dead,

I cried the whole night,

only to look at the things that wouldn't repeated twice in the morning.

That night my mind keeps saying,

It's Singapore Feeling.


05-04-2024.


Jumat, 12 Juli 2024

I'm all at once.

Ever wonder how the world spins? me too.

I've spent my life seeing and listening,

there are times when i talk too much too.

At times i laugh hard for meaningless jokes,

at times i space myself out: letting all the thoughts floating in,

at times i let my anger splashes out just like a time bomb,

at times i walk cluelessly: just because i need to get ahead of everything and see where the right direction is,

at times i had fear: just because i'm not good at communicating with myself,

"Do i need to even feel this way?" 

"Does it look pathetic when i cry?"

then here comes the cry-like-a-kid show: for everything, 

mixing all the long sorrows and pain at a glance,

at times i choose to stay silent, 

thinking that it was the best way to gather all the big pictures then begin to understand the situation,

at times i tend to let go, 

thinking that if i myself could not hold the things dearly then i'd be honest about it.

There are bitter days, sweet memories, sour moments, salty words came out.

There are all at once.

To put all the things, there are so many sides i still need to discover and let it be vulnerable to others,

just like the world who keeps spinning while holding its own weight, 

my life is spinning too with all that parts.

It's all at once.

I'm all at once. 

Jumat, 15 Juli 2022

Kenapa ini Juli?

15 Juli 2022.

Hujan pertama yang dirasakan di rumah tahun 2022.

Adem, ngusir lelah yang gue rasain karena terus ngesprint sama hidup gue. Too rush, too productive. Apa yang gue kejar? Apa yang gue cari? Dari semua langkah cepat yang gue lakuin sampe juli ini, gue mengalami banyak hal yang terasa singkat. Kenapa ini Juli? Apa menjadi orang dewasa bikin kita ngerasa waktu cepat berlalu? Malam ini jadi besok, besok jadi lusa, lusa jadi minggu depan, minggu depan jadi....2023. Hari ini gaada penyesalan, besok masih tanda tanya. Semua hal pengen diselesaikan, seolah-olah we're running out of time. 

Ngapain gue selama 7 bulan ini? Lagi-lagi gue lupa sama detail kecilnya. Seolah ingatan gue sebatas umur laron. Muncul pas hujan di malam hari, dan menghilang meninggalkan sayapnya saja di pagi hari. Terlalu banyak. Engga ada sedih yang menggunung di tahun ini, gue mulai beradaptasi dengan dunia dewasa. Hidup mencari makna, sembari dihantui kenangan kebebasan masa muda. Bau angin malam Jakarta, botol yang dituang langsung straight ke tenggorokan, lampu kelap-kelip, tawa dan tangis dalam satu momen yang sama, melempar dart sembari gundah gapunya kegiatan, energi yang ga habis-habis setiap loncat bersama-sama. Itu bukan definisi kebahagiaan, itu definisi kebersamaan. Hal itu yang membuat gue tersenyum kalo hujan turun. Semua bahagia dan sakit nyatu jadi buku yang indah. Bukan mereka yang bikin gue sakit, proses pendewasaan gue lah yang membuat gue sakit. Ketika semua diawali dari "garis start" yang sama, tapi sekarang jalurnya mulai bercabang untuk semua orang. Ini ga cuma dialami oleh gue. Ini dialami oleh orang-orang yang sangat gue sayangi. Oh...mungkin ini alasannya gue gamau mereka berhenti dijalan. Inilah alasannya gue ada. Luntang-lantung semau gue selama ada kata "ayo". Gue takut kehabisan waktu. Bukan waktu gue, tapi waktu mereka. Gue menyaksikannya sendiri, luka-luka kecil karena harus terpaksa dewasa. Ditinggal teman untuk selamanya, ditinggal ibu untuk selamanya, hubungan yang mulai kandas karena tak ada perubahan, perjalanan karir yang gatau mau dibawa kemana, siklus hidup fana yang gaada habisnya, pemikiran yang bertanya satu sama lain "apa yang sedang dia hadapi kali ini?". Gue berpikir keras. 

Sulit dan lelah melanda, sembari membesarnya rasa takut kehilangan. Kenapa ini Juli? Terlalu cepat setengah tahun berlalu. Hujan yang panjang ini menyadarkan gue:

Kenapa ini Juli?



Sabtu, 13 November 2021

Ambigu

Manusia makhluk yang ambigu. 

Bisa senang dan sedih secara bersamaan. Bisa merasa kesulitan saat awalnya merasa sesuatu itu mudah. Bisa menyanggupi lalu putus asa. Bisa menyelipkan kejujuran disela candaan atau kebohongan. Bisa merasa salah mengambil langkah padahal langkahnya benar. Bisa merasa sakit padahal terlihat sehat. Bisa terlihat tegar padahal lelah. Bahkan, ada yang terlihat dingin padahal peduli. Sulit ya? Semua orang merasakan hal yang sama. Atas dasar hal ini, di hidup gue gaada benar dan salah. Karena sudut pandang kehidupan gaakan pernah sama. 

Tapi dari yang gue rasa, ga semua orang berpikir dengan cara yang sama. Ketika manusia merasa sakit hati, terkadang mereka lupa untuk melihat sekelilingnya. Lupa, sampai terkadang nyakitin orang lain juga. Ada yang sibuk dengan lukanya seolah-olah dialah yang paling tersakiti di dunia ini. Gue adalah salah satunya. Tanpa sadar, diri gue yang terus menerus fokus menyalahkan ketidakadilan yang gue alami di hidup gue secara galangsung ngelukain sekitar yang peduli dan sayang sama gue. Butuh waktu bertahun-tahun buat gue bangun ke kenyataan dan sadar bahwa gue harus berhenti. Tahun lalu adalah satu bagian pendewasaannya. 

Jujur, nyakitin orang lain itu mudah. Memperbaikinya sulit. Gue belajar tentang hal ini. Tapi tau apa yang paling pait sekarang? Ketika gue akhirnya melalui fase itu, sekarang sekitar gue melakukan hal yang sama. Awalnya gue maklum. I don't really mind because every human have different phase of life, and I'm willing to accept the situation. Lama-lama gue mulai exhausted. Gue merasa dengan image gue yang kuat atau ga berperasaan, gue diremehkan. Seolah-olah perasaan gue gaada dan ga valid. Orang mulai lupa kalau gue manusia juga. Bisa sedih, bisa marah, bisa sakit hati, bahkan nangis. Atas dasar hal itu, terbentuklah diri gue yang terlihat emotionless dan ignorant. Gue merasa hak gue untuk mengekspresikan hal yang sama hilang, seolah-olah direnggut dari diri gue. 

28 Februari 2021 memukul hidup gue. Ini bukan tentang semua kericuhan yang terjadi di hari itu. Tapi tentang fakta bahwa beberapa orang di hidup gue merasa bahwa perasaan sakit atau kecewa yang mereka rasakan patut untuk dirasakan berlarut-larut. Tentunya tanpa ngeliat sisi yang mereka anggap ngecewain mereka. Gue salah satu orang yang seems fine, but broken inside. Gue lelah liat orang yang terus menerus mengasihani dirinya sendiri. Seolah-olah gapunya andil kesalahan atas semua hal yang terjadi. Seolah bagian dari pilihan hidupnya yang dia tempuh ga memiliki resiko. Lalu semua itu jadi tanggungan orang lain. Tanpa dia sadar, ketika dia sibuk berbagi rasa sakitnya ke banyak orang di luar sana tanpa nyentuh akar masalahnya (dengan ngomong langsung ke sumbernya), dia merusak pandangan orang lain. Tiba-tiba peran antagonis ditentukan. Rasa rendah dan terinjak-injak nyelimutin hari-hari gue. Mau nangis disela ramainya kehidupan sekitar? Gabisa. Gaada air mata yang keluar. Apa orang lain tau? Engga. Ada juga orang yang merasa harapan yang dia bangun dalam beberapa bulan saja rusak. Padahal karena ekspektasinya sendiri dalam mencinta. Lalu orang yang tadinya ia hargai cuma jadi seonggok sampah di masa lalu. Ada lagi tipe yang paling gue benci. Manusia yang gatau cara berterima kasih. Manusia yang merasa hidupnya udah miserable enough sampe-sampe tanpa dia sadari, dia jadi manusia yang berharap orang memaklumi sifat dan kondisi dia. Gue juga susah, semua orang susah. Tapi gue gapunya waktu buat mikirin harga diri dan perasaan gue. Sedangkan di dia, it does matter. Percuma berdebat dengan orang bebal dan gatau dirinya andil berbuat salah. Orang-orang lupa kadang apa yang mereka anggap sebagai sumber kekecewaan mereka punya sisi lain. Sehingga siapa yang salah dan benar menjadi ambigu. Padahal, pada ujung ceritanya tidak ada yang perlu disalahkan. Semua yang terjadi memiliki alasan. 

Sejak hari itu, gue makin freak. Ngelakuin olahraga dan menyibukkan diri sama tanggung jawab gue. Semua itu gue lakuin buat nge-distract diri gue yang udah merasa setengah gila didalem. Bertingkah seolah paling rajin, paling rutin, paling mencoba tertata, padahal rusak. Emang ada yang sadar? Bahkan diri gue aja menolak untuk sadar. Sampe sekarang pun gue masih melakukan hal yang sama di hidup gue, survive.

"Fokus, fokus, fokus. Gue sakit, gue hancur, gue kecewa. Semua ini salah dia." Itu yang terus menerus gue liat dari matanya. Ambigu bukan? Pada akhirnya yang dianggap sumber atau subjek masalahnya yang menanggung mentalnya sendiri. Mereka lupa perasaan satu orang, lalu membunuh karakternya. Lupa kalo bebannya berkali-kali lipat bagi dia yang dipermasalahkan. Seolah-olah barang dan bukan orang, padahal gue yakin dia punya pilihan hidupnya sendiri. Pilihan kebahagiaan seolah bergantung pada kebahagiaan orang lain. Gaberhak bahagia atau menjalankan pilihan hidupnya karena ada yang merasakan kesedihan. Kehidupan ambigu macam apa itu?

Ini adalah ambiguitas yang gue gatau sampe kapan akan terus berlangsung. Gue cuma menaruh harap dan doa bahwa semua orang berproses. Gue berharap seseorang jangan pura-pura buta akan perasaan orang lain. Sampai suatu hari, jawabannya datang. Seorang laki-laki berumur 40 tahunan pernah berbagi cerita hidupnya yang pahit. Kehidupan cintanya di masa muda, rumah tangganya sekarang, dan pilihan hidupnya. Hal itu membuat gue sadar pelan-pelan bahwa memang Tuhan ga menciptakan hidup yang mulus ke semua umatnya. Balik lagi apakah kita terima semua ini atau engga. 

Satu quotes dari beliau yang mukul gue di malam itu dengan kondisi tangan gue yang bekas diinfus siang harinya:

 "Lu jangan sok ngalah lin. Perasaan lu valid."


Lalu ambiguitas di hati gue pelan-pelan terlihat jelas. Ternyata gue hanya perlu berhenti memaklumi. Gue disuruh ngeliat diri gue sendiri yang mulai membusuk karena terus ngubur apa yang gue rasain. Gue disuruh bangun dan lebih jujur sama diri gue. Bahwa gue berhak marah, berhak sedih, berhak berpikir bahwa apa yang udah terjadi emang harusnya terjadi. Berhak meneriaki balik ke beberapa dari mereka "lo ngerti gue ga? pernah lo liat apa yang gue rasain? emang cuma lo di dunia ini yang terluka?"

Gue balik ke rumah malam itu juga dan merenung sama nasihat sebelumnya. Gue nangis di taksi. Nyampe rumah gue bergegas ngunci pager, pelan-pelan lari keatas supaya ga mengganggu tidur orang tua gue, ganti baju, cuci muka, sikat gigi, dan terduduk nangis di depan wastafel kamar mandi gue. Ternyata gue secapek itu. Galupa gue nelfon seseorang untuk ngabarin kalo gue udah sampe rumah dan bilang "kalo aku ketiduran gapapa ya", dan gue terlelap bareng semua air mata yang ngalir di muka gue. Gue tidur dengan tenang.

Jumat, 18 Oktober 2019

So long

Dear Diary,


Oktober 2019. Gabisa disangkal ya tahun ke tahun berlalu secepet itu? Banyak hal yang berubah, ada juga yang masih sama. Gue menginjak semester 5. Rupanya gue masih survive disini. Gue semakin deket dengan apa yang gue kejar, tapi gue semakin takut ada gagal di akhir. Mungkin bisa dibilang ini adalah insecurity yang ga berujung. Ga akan tenang sebelum gue megang toga didepan ayah dan ibu gue lalu kita foto. But i'm glad this insecurities ain't hunting me every second. Gue beruntung karena sekarang gue punya banyak banget kegiatan dan ada orang yang nemenin gue. I've probably mess my life if i was alone for sure. Gue disibukkin oleh tugas yang ga abis-abis, gue dance, gue gym, belom lagi setiap dosennya demanding sama kuis. Mau ga mau di kampus lo liat buku, di kosan pun lo liat buku lagi. Cuma 2 - 3 jam aja gue pake buat main dota kalo gue stress banget. Sejujurnya makan gue keteter, laundry apalagi. Jangan tanya kamar gue kayak gimana (karena gue pulang malem terus). Secara fisik ya nyapein, tapi gue ga banyak pikiran kayak sebelumnya. Gue ga butuh cari minuman atau orang supaya gue lepasin penat gue. 

Waktu berlalu sejak start 5th term, haha hehe tautau udah uts aja. Semua mata kuliah makin advance dan gue semakin deg-degan apakah gue deserve masa depan gue yang menjadi seorang geosaintis. Gue mulai programming, belajar aplikasi dan software permodelan, gue pelajarin alat dan fungsinya, bahkan gue ke gunung buat ngedeketin diri sama alam. Ternyata bener, nyari jati diri gapernah sebentar waktunya. Ketika kita mikir kalo kita udah nemuin jati diri kita, datang lagi puzzle baru yang harus disusun. Beberapa bulan ini mental gue sangat ditempa. Kawan sd, smp, sma, bahkan jurusan fisika yang dulu gue sempet pijakin 2 semester udah pada update pake toga. Sedikit dan beberapa orang yang berarti pun ngundang gue dateng untuk nyemangatin dia. Gue datang. Datang,  bawa hadiah, nyelametin, bahagia, foto bareng, pulang...pait. Lucu ya? Gue ga ngefake kok. Betul di satu momen itu gue bahagia banget, bangga temen gue udah lepas dari semua bebannya dan tinggal lanjutin masa depannya. Gue cuma sedih karena gue akhirnya mikir lagi 'coba gue masih di fisika ya, mungkin gue foto sambil loncat lempar toga'. Sakitnya bukan main bayangin hal-hal kayak gitu. Soalnya kenyataannya lo disini masih berjuang buat uts dan uas, absensi mati-matian, nugas banyak, dan masih haha hehe ga tau judul skripsi nantinya mau tentang apa. 

Oh ya. Gue mau sedikit cerita tentang sahabat gue yang udah 10 tahun bareng sama gue. Namanya kania. Buat gue, dia orang yang funny, blunt, creative, and strong. Doi kuliah di Malang. Sempit waktu gue untuk ketemu sama dia dan sebelum pergantian tahun kemaren alhamdulillah gue abisin waktu bareng dia. Kita banyak foto-foto dan sharing deep talk tentang apa yang udah dilaluin selama misah. Gue tau struggle dia, dia tau struggle gue. Setengah tahun berlalu, gue denger kabar duka. Bokapnya meninggal karena sakit. Gue yang kebetulan lagi ada dirumah langsung nelfon Nadya dan ngajak kerumahnya. Sepanjang perjalanan kesana otak gue kosong, karena hari yang kayak gini datang secara mendadak. Gue gatau disana gue mau ngapain, gue harus berekspresi apa, dan apa yang mau gue omongin. Waktu itu gue janjian sama Nadya didepan smp 255, smp gue dulu. Terus kita jalan kaki dikit dan naik angkot ke rumah Kania. Sampe sana tempatnya udah mulai rame didatengin orang, gue ngelangkah ragu karena gue gatau apa yang Kania rasain disitu. Tantenya Kania nyuruh gue dan Nadya masuk, dan akhirnya gue ketemu Kania didalem. Hal pertama yang bikin gue kaget adalah doi masih baik-baik aja. Ga nangis dan lemes. Sedangkan nyokapnya dalam keadaan sedih. Sebagian dari diri gue bertanya-tanya apa yang kania rasain, sebagiannya lagi turut sedih liat kondisi nyokapnya. Jujur, ini pertama kali setelah 8 tahun gue mau ngelayat. Yap, gue takut ngeliat orang meninggal. Nano-nano perasaan gue disana. Panjang momennya sampe akhirnya ke penguburan, dan disitulah momen emosional gue dimulai. Siang terik, seiring jenazahnya mulai di adzanin, nyokapnya nangis, kania nangis. Disitu gue cuma bisa nepuk pundaknya karena gue juga sedih. Gue liat beberapa orang lainnya juga nangis. Pemakaman selesai, semua orang berdoa dan naburin bunga. Satu persatu pulang. Awalnya Kania cuma ngeluarin air mata doang, dan saudaranya ngajak dia pulang. But she insists to stay, so we stay with her. Tersisa gue, Nadya, Kania, dan Jihan di samping nisan bokapnya. Baru setelah sepi itu nangis Kania pecah ngelebihin yang sebelumnya. Ngeliat dia bisa nahan sedihnya dari awal sampe akhirnya tersisa ber4 doang bikin gue ikut nangis disitu. Sedalem itu rupanya luka dari orang-orang yang ditinggalin. Gue dan 2 temen gue meluk dia. Selang setengah jam habis dia nangis dan stand beside her father's final resting place, kita pulang bareng kerumahnya. Ngobrol-ngobrol ringan sebentar, habis itu gue dan Nadya balik.

Pikiran gue rumit di momen itu. Gue ngerasa gue ngerti apa yang Kania rasain. Dan gue salut banget sama dia karena dia masih jadi seorang Kania yang kuat. Bahkan lebih kuat dari gue. Kalo gue flashback, rasanya baru kemaren kita sekolah, jualan makanan dan nasi uduk buatan mamanya Kania buat tugas Mr. Arief. Nyemilin sosis + mie gulungnya alias makanin makanan yang mau kita jual. Baru kemarin rasanya kita ngomongin siapa crush kita, ngerjain LKS bareng-bareng, selfie alay, jogging pagi di hari Jum'at, dan bahkan ngebangkang pak Abdul. Gak pernah terpikir sama gue di masa itu kalo nanti ada hari duka dimana kita harus terus ngerangkul satu sama lain. Pikiran ini terus aja terlintas sampe akhirnya gue kembali ke rumah. Sebelum gue makin menyesal sama semua yang gue laluin, akhirnya gue memberanikan diri ngomong sama bokap gue soal kuliah gue. Awalnya di meja makan ada adek dan nyokap, tapi karena gue mau ngomong serius dan mereka berdua udah tau isi omongan gue apa, mereka melipir ke lantai atas ninggalin gue berdua dengan bokap. 

'Yah. Aku mau ngomong.'
'Iya, mau ngomong apa neng?'
'Soal kuliah'
'Ya.'
'Dulu aku di kick dari UI, aku bukan di fisika lagi sekarang. Aku ujian lagi jadi angkatan 2017.'
'....'

Dia diem. Sambil terus motongin obatnya sebelum dimasukin ke kotak obat mingguannya. Gue ngeliat raut yang ga marah, tapi mencari-cari apa balasan yang tepat untuk bales omongan gue. Diamnya dia 2 menit bikin gue nangis, karena gue ngeliatin seberapa tua sekarang dia, ngeliat papan tulis yang penuh tulisan dia tentang jadwal obat dan harganya, dan ngeliat semangat hidup yang dia perjuangin sampe detik ini juga. So long. Gue udah terlalu lama bikin seorang Ayah yang sakit nungguin gue wisuda. Setelah 2 menit yang pelan-pelan ngebunuh gue, dia buka suara.

'Gak apa-apa. Berat ya? Kejar lagi aja, jangan gagal lagi.'

21 tahun gue hidup baru disitu gue nangis seada-ada didepan orang tua sendiri. Gue yang gapernah nangis depan orang tua mecahin rekor di hari itu. Gue cerita banyak hal yang gue laluin dari mulai sekamar sama Fatin sampe akhirnya gue di bc ngejer SBM dan gapernah pulang. Gue lega di hari itu akhirnya gue jujur. Dia ngasih gue semangat dan contoh-contoh saudara yang udah kerja sekarang, gimana alur hidupnya, gagal engganya, susahnya kayak gimana. Katanya gue beruntung gue kuliah di negeri, karena 3 kakak gue dan bahkan adik gue Agas kuliah swasta. He said he was proud of me. Dia cuma nyuruh kalo bisa lebih cepet kelarin ya usahakan. Sekelar pembicaraan itu gue alibi mandi dan nangis di toilet. (iya ini alay maksimal tapi sedih banget gatau kenapa di momen itu. andai dia ga ngomong bangga ama gue mungkin gue masih bisa nahan. ya gue malu. gue malu karena gue udah banyak salah). Gue emang ga ceritain semua hal buruknya, tapi setidaknya garis besarnya udah. Kejadian di hari itu bikin bokap gue lebih care  sama gue. Gue sedikit sedih karena baru diumur gue sekarang gue punya pendekatan sama bokap. Selama ini gue cuma kayak dosen sama muridnya. Kalo ketemu discuss terus. Jaman sekolah doi strict banget, modem gue pernah diinjek saking seringnya gue main laptop di kamar dan gapernah nyaut kalo dipanggil suruh makan. Gue kayak catdog dulu. Ada aja debatnya. Gue sadar gue growing up sekarang, dulu gue berdebat karena gue cuma gamau keliatan gapunya pendirian dan makin dimarahin. Sekarang itu gaperlu. Yang gue tau gue harus bahagiain dia, sama nyokap gue tentunya. 

Udah ya mellownya. Balik lagi ke momen sekarang, gue lagi ngambis ngumpulin catetan temen gue dan gabungin ke catetan gue sendiri. Seniat itu biar gue galagilagi gagal. Motivasi gue memang cuma orang tua gue, kadang gue ngerasa sangat kurang , tapi gue gaboleh lupa bersyukur karena gue udah lewat dari setengah jalan dan cuma sedikit lagi sampe gue ke momen yang gue tunggu-tunggu selama ini. Buat yang lagi ngedown, unmotivated, broken-hearted,siapapun itu. Hey. Jangan nyerah sama apa yang lo kerjain. Mungkin lo ngerasa hidup gapernah mihak lo karena everything feels miserable. Tapi liat satu sisi deh, lo masih punya keinginan hidup kan? Lo takut mati. Lo masih mau lakuin banyak hal. Lo masih punya mimpi. Jangan dibuang. Kita gapernah tau didepan ada apa, jangan bikin waktu yang udah kita korbanin sama orang yang kita sayangin kebuang sama penyesalan yang gapernah berujung. Gue benci ngomong klise sebenernya, tapi berjuanglah. Lo ga sendiri. (Harusnya gue ngomong ini juga ke diri gue sendiri. Ya kita sama-sama motivasi aja lah ya). Cheers for the fool, cheers for the broken-hearted, cheers for the unmotivated, cheers for the hatred, cheers for the anger, cheers for the mourning. Cheers! *ngajak tos pake gelas*

Selasa, 25 Juni 2019

25th June

Ini cerita tentang seorang cewek yang gue temuin 3 tahun lalu melalui perspektif gue.
Warning : Apapun yang ditulis disini hanya terjadi di momen itu, dan bukan di momen sekarang. No offense untuk siapapun yang baca.

Gue masih inget, waktu itu 2016. Tahun yang menurut gue masih gelap pada masanya. Gue masih terjebak di suatu hubungan yang ga gue senengin dan gue harus jadi 'pengikut' orang yang gue ga senengin kemanapun dia pergi. Hari itu ada event di daerah Pluit, World of Gaming a.k.a WOG. Karena gue diharuskan ada untuk nemenin orang yang ga gue senengin kemanapun, gue datang ke event itu. Pada masa itu, gue sejujurnya menemukan titik cerah dimana gue mulai kenal Kanaya dan gue tau gue mau kemana kalo gue bisa lepas dari hubungan yang bikin gue lelah, tapi itu belum waktunya. Dramatically, waktu itu Kanaya vs Pondok Gaming AVS meet on stage dan pihak gue kalah. Disitu gue ada sisi puas karena orang yang ga gue senengin kalah dan Kanaya menang, tapi juga sedih karena yang tryhard untuk menang di PG AVS ga cuma seorang. So, 50:50. Disaster itu dimulai setelah udah kalah, orang yang ga gue senengin ngamuk di lobby Pluit Mall waktu itu dan ngusir 4 orang sisanya untuk balik ke hotel. Gue? Ya seperti biasa gue gaboleh ikut mereka dan gue harus tetep ada nemenin satu orang ini di mall (oh iya, maksanya sambil maki-maki pula. inget ini bikin gue rolling eyes). Rasanya jiwa gue udah mau keluar aja karena gue ga menikmati situasi di event itu. Gue mau pulang.

Disela-sela spacing outnya gue ditempat itu, gue duduk entah di deretan mana. Gue gapeduli, yang penting gue duduk, dan orang yang gue ga senengin terserah mau ngobrol sama siapa atau kemanapun. Gue gapeduli. Gue hanya lelah. Lalu pas gue duduk disitu ada seorang cewek yang menyapa gue dengan senyum.

Dia : "Hai, namanya siapa?"
Gue : "Halo. alin. Lo?" 
*ini gue jawab singkat karena gue ga tertarik dengan percakapan setelah semua hal yang udah terjadi hari itu*
Dia : "Jessica. Cici main games juga?"
Gue : "Iya, Dota 2. Kalo lo main games apa?"
Dia : "Wah sama! Aku juga main Dota. Eh ini kenalin samping aku, ini adikku. Dia main dota juga."

Disitu gue kenalan, habis itu gue lupa apa lagi yang terjadi. Gue cuma ngobrol basa basi sekilas dan gue kembali spacing out. Galama habis itu, gue pindah tempat duduk, dan gue hanya ikutin si 'God' yang mengatur-ngatur gue kemanapun dia melangkah. Pas udah malem dan gue duduk di emperan mall gue ngereka ulang apa aja yang gue udah laluin di hari ini dan terbesitlah soal cewek itu di pikiran gue. Akhirnya gue bertanya ke 'God' saat dia sibuk ngoceh gapenting tentang teman-temannya yang performanya buruk hari ini, "Cewek itu sebenernya siapa?", dan si 'God' menjawab "Dia ceweknya si X". Dalam hati, gue langsung "Oh". Kemudian gaada lagi yang gue pengen tanyakan, yang gue inget cuma senyumnya yang secerah matahari, dan keramahannya yang gakenal siapapun batang hidungnya. No enemies indeed. Perfect kind of woman. Kebalikan dengan gue yang super keruh ke siapapun saat itu. 

Setahun berlalu. 2017 datang. Akhirnya gue lepas dari semua hal yang mengekang gue.

Kanaya bubar, mencar jadi beberapa tim yang berbeda. Life goes on. Gue diterima di UI, dan gue menjalani hidup hectic gue menjadi maba lagi. Suatu waktu, Tri lagi libur dari boom dan nginep di barackx. Ramzi dan kawan-kawan ikut turnamen kampus. Gue cuma denger kabar itu via chat dan gue ketawa karena tumben-tumbenan ramzi ikutan yang kayak gitu. Galama setelah itu, gue denger cerita dari Tri tentang seorang cewek yang jago main Enchantress, punya passion besar di dota, dan dia lucu. Jarang buat seorang Tri ngomongin cewek, dan gue jadi sangat tertarik dengan siapa sosok orang yang dia omongin itu. Katanya dia punya tim, dan dia kenal Cheryl, temen lama gue. Namanya Jessica. Dia juga yang bikin Ramzi mau ikutan turnamen. (HAHA, dan lucunya ya Ramzi terlalu obvious. Gue langsung ngeh bahwa Ramzi punya ketertarikan sama cewek ini). Berhubung di turnamen itu ada beberapa kejadian yang diceritakan pas gue nongkrong sama mereka, akhirnya terdoronglah gue untuk nge-stalk siapa Jessica. Gue cukup antusias karena gue niat kenalan setelah denger tentang dia yang punya passion sama dota.

Clicking , scrolling the photos. Butuh waktu cukup lama buat gue menimbang-nimbang apa gue pernah liat sosok perempuan ini sebelumnya. Cukup lama sampe akhirnya gue bener-bener ketemu langsung di sebuah warnet cafe di daerah Jakarta Barat. Gue request Tri untuk ikutan nongki karena rasa penasaran gue yang besar soal Jessica. Akhirnya kita makan di Pizza Hut tepat disebrang warnet cafe yang pertama kita ketemu. Gue ngobrol, bercanda, dan tentunya ngecengin Tri karena gue tau apa yang dia rasain ke Jessica. Kesan gue saat pertama kali ngobrol banyak, gue langsung ngerti kenapa dia adorable banget dan asik untuk dijadikan teman. Gue seneng karena dia orang yang baik. Galama sebelum cabut dari Pizza Hut, dia bilang 'Cik, kita kan pernah ketemu dulu.'. Gue kaget. Gue mencoba inget ulang tapi gue gatau kapan dan dimana. Akhirnya , gue nanya 'Oh iya? Kapan?', dan kemudian dia jawab 'Itu loh yang event WOG di Pluit. Aku yang ngobrol sama cicik pas lagi duduk.'. Yang ini gue speechless. Gue bisa lupa sama sosok dia selama setahun, dan malah dia yang inget gue, padahal keberadaan gue disitu waktu itu rasanya udah kayak hantu aja. Pengen ngilang. Gue lupa betapa samanya dia setelah setahun berlalu dan berbedanya gue setelah setahun berlalu. Dia bikin gue sadar bahwa dunia ini sempit. Gue dipertemukan dengan dia di dua fase yang berbeda 180 derajat, dan gue kagum karena dengan gue yang berbeda pun dia tetep seasik kayak pertama kali kita ketemu di WOG.

Hari berlalu, bulan berlalu. Gue jadi temen yang iseng nongki sama dia kalo sempet, main dota party untuk fun, juga janjian kalo ada event di mall. Semuanya berlalu gitu aja. Tapi masih ada dinding antara gue sama dia, karena dengan gue yang traumatik deket sama cewek, gue gabanyak cerita soal diri gue. Sampe suatu saat di sebuah event di Taman Anggrek Mall, dia buka conversation. Saat itu kita baru balik dari kamar mandi dan mau turun lewat eskalator. 

Dia : "Cik, cicik kenal 'God' kan?
Gue : "Iya kenal, dia mantan gue. Kenapa?'

Terjadilah cerita panjang soal apa yang si 'God' lakuin sehingga bikin seorang Jessica kesel dan ga nyaman. Disitu gue gahabis pikir , kenapa bisa orang kayak dia malah kesangkut masalah yang menyebalkan kayak gitu. Berhubung gue belum lama kenal dia dan saat itu si 'God' masih stalk snapgram dan ig gue, gue pun planning a revenge. I'm asking her to take selfie with me and i would like to upload it on the instagram. Kerennya, she's cool with it. Then we go for a revenge. I tagged her as if we're a really good friends. Dan gue pun mulai terbuka sedikit sama apa yang gue laluin juga selama kenal sama 'God'. Lama gaketemu, habis itu dia liburan, dan dia bawain gue oleh-oleh dream catcher with a cute message on top of it. Gue terpikirkan untuk beliin dia souvenir balik. Sejujurnya gue cukup heran kenapa dia mau beliin gue , ramzi, dan yang lainnya souvenir padahal kita belom lama kenal. Kenapa ada orang yang se-humble itu ke orang yang baru dikenal. Gue yang takut dia fake ke gue kayak orang yang lainnya, mulai ngubah pandangan gue ke dia. What i really thought is, she's a good person in every perspective. Dia ninggalin kesan yang bagus untuk gue yang bahkan selalu mikir bahwa gaul sama sesama cewek sekedar untuk business aja, nothing personal.

Waktu terus berlalu, dan sekarang 25 Juni 2019, gue udah laluin hal-hal lucu sama dia. Hang out kalo lagi sempet, ketawa, nangis, nginep bareng, ngomong kasar kalo kesel, bawel ditelfon kalo lagi butuh temen cerita, dan planning on a trip if we get a chance. Gue pun mulai kenal bahwa dia melalui banyak masa sulit selama ini dan ga se-perfect yang orang kira. She struggles so hard, and i thank her for trusting me with every stories she holds on herself since forever. Oh right, here it is.

"Happy Birthday Sunshine.
May God always bless you with His grace. Keep being you, lessen the fake, talk loudly, hold strongly, smile brightly, and don't forget to thank every moment you had till now. Don't ever escape despite any situation you face. Makasih udah jadi temen yang bisa nangis buat gue, ketawa sama hal yang receh, cengengesan untuk menghindari badmood, dan random karena bisa nyablak gaada angin gaada hujan. Jangan pernah capek untuk jalanin kuliah karena gue percaya, rutinitas yang menyebalkan mempertemukan lo dengan orang-orang yang mau nemenin lo disela-sela rutinitas lo itu. Keep fighting, gue lebih suka lo ngeluh tapi sambil tetep lakuin semuanya. Karena power lo disitu. Kembangin semua kreatifitas lo saat ini dan selesain semua yang memberatkan lo supaya lo cepet bebas. Gabanyak yang bisa gue katakan karena seperti biasa, gue gapinter nyusun banyak kata. Woof you always."

Your Admirer,
Alin


Thanks to you , gue percaya sama apa yang namanya takdir. Gue ketemu lo 3 tahun yang lalu dan sekarang gue bakalan mulai menghitung pertemanan kita setiap tahunnya. Gabanyak yang bisa gue kasih, semoga lo tetep mau temenan sama gue kedepannya. Daaaaan jangan pernah nyalahin diri sendiri dalam waktu yang lama. Semoga langgeng sama Rey. Doa gue menyertai.