Jumat, 15 Juli 2022

Kenapa ini Juli?

15 Juli 2022.

Hujan pertama yang dirasakan di rumah tahun 2022.

Adem, ngusir lelah yang gue rasain karena terus ngesprint sama hidup gue. Too rush, too productive. Apa yang gue kejar? Apa yang gue cari? Dari semua langkah cepat yang gue lakuin sampe juli ini, gue mengalami banyak hal yang terasa singkat. Kenapa ini Juli? Apa menjadi orang dewasa bikin kita ngerasa waktu cepat berlalu? Malam ini jadi besok, besok jadi lusa, lusa jadi minggu depan, minggu depan jadi....2023. Hari ini gaada penyesalan, besok masih tanda tanya. Semua hal pengen diselesaikan, seolah-olah we're running out of time. 

Ngapain gue selama 7 bulan ini? Lagi-lagi gue lupa sama detail kecilnya. Seolah ingatan gue sebatas umur laron. Muncul pas hujan di malam hari, dan menghilang meninggalkan sayapnya saja di pagi hari. Terlalu banyak. Engga ada sedih yang menggunung di tahun ini, gue mulai beradaptasi dengan dunia dewasa. Hidup mencari makna, sembari dihantui kenangan kebebasan masa muda. Bau angin malam Jakarta, botol yang dituang langsung straight ke tenggorokan, lampu kelap-kelip, tawa dan tangis dalam satu momen yang sama, melempar dart sembari gundah gapunya kegiatan, energi yang ga habis-habis setiap loncat bersama-sama. Itu bukan definisi kebahagiaan, itu definisi kebersamaan. Hal itu yang membuat gue tersenyum kalo hujan turun. Semua bahagia dan sakit nyatu jadi buku yang indah. Bukan mereka yang bikin gue sakit, proses pendewasaan gue lah yang membuat gue sakit. Ketika semua diawali dari "garis start" yang sama, tapi sekarang jalurnya mulai bercabang untuk semua orang. Ini ga cuma dialami oleh gue. Ini dialami oleh orang-orang yang sangat gue sayangi. Oh...mungkin ini alasannya gue gamau mereka berhenti dijalan. Inilah alasannya gue ada. Luntang-lantung semau gue selama ada kata "ayo". Gue takut kehabisan waktu. Bukan waktu gue, tapi waktu mereka. Gue menyaksikannya sendiri, luka-luka kecil karena harus terpaksa dewasa. Ditinggal teman untuk selamanya, ditinggal ibu untuk selamanya, hubungan yang mulai kandas karena tak ada perubahan, perjalanan karir yang gatau mau dibawa kemana, siklus hidup fana yang gaada habisnya, pemikiran yang bertanya satu sama lain "apa yang sedang dia hadapi kali ini?". Gue berpikir keras. 

Sulit dan lelah melanda, sembari membesarnya rasa takut kehilangan. Kenapa ini Juli? Terlalu cepat setengah tahun berlalu. Hujan yang panjang ini menyadarkan gue:

Kenapa ini Juli?



Sabtu, 13 November 2021

Ambigu

Manusia makhluk yang ambigu. 

Bisa senang dan sedih secara bersamaan. Bisa merasa kesulitan saat awalnya merasa sesuatu itu mudah. Bisa menyanggupi lalu putus asa. Bisa menyelipkan kejujuran disela candaan atau kebohongan. Bisa merasa salah mengambil langkah padahal langkahnya benar. Bisa merasa sakit padahal terlihat sehat. Bisa terlihat tegar padahal lelah. Bahkan, ada yang terlihat dingin padahal peduli. Sulit ya? Semua orang merasakan hal yang sama. Atas dasar hal ini, di hidup gue gaada benar dan salah. Karena sudut pandang kehidupan gaakan pernah sama. 

Tapi dari yang gue rasa, ga semua orang berpikir dengan cara yang sama. Ketika manusia merasa sakit hati, terkadang mereka lupa untuk melihat sekelilingnya. Lupa, sampai terkadang nyakitin orang lain juga. Ada yang sibuk dengan lukanya seolah-olah dialah yang paling tersakiti di dunia ini. Gue adalah salah satunya. Tanpa sadar, diri gue yang terus menerus fokus menyalahkan ketidakadilan yang gue alami di hidup gue secara galangsung ngelukain sekitar yang peduli dan sayang sama gue. Butuh waktu bertahun-tahun buat gue bangun ke kenyataan dan sadar bahwa gue harus berhenti. Tahun lalu adalah satu bagian pendewasaannya. 

Jujur, nyakitin orang lain itu mudah. Memperbaikinya sulit. Gue belajar tentang hal ini. Tapi tau apa yang paling pait sekarang? Ketika gue akhirnya melalui fase itu, sekarang sekitar gue melakukan hal yang sama. Awalnya gue maklum. I don't really mind because every human have different phase of life, and I'm willing to accept the situation. Lama-lama gue mulai exhausted. Gue merasa dengan image gue yang kuat atau ga berperasaan, gue diremehkan. Seolah-olah perasaan gue gaada dan ga valid. Orang mulai lupa kalau gue manusia juga. Bisa sedih, bisa marah, bisa sakit hati, bahkan nangis. Atas dasar hal itu, terbentuklah diri gue yang terlihat emotionless dan ignorant. Gue merasa hak gue untuk mengekspresikan hal yang sama hilang, seolah-olah direnggut dari diri gue. 

28 Februari 2021 memukul hidup gue. Ini bukan tentang semua kericuhan yang terjadi di hari itu. Tapi tentang fakta bahwa beberapa orang di hidup gue merasa bahwa perasaan sakit atau kecewa yang mereka rasakan patut untuk dirasakan berlarut-larut. Tentunya tanpa ngeliat sisi yang mereka anggap ngecewain mereka. Gue salah satu orang yang seems fine, but broken inside. Gue lelah liat orang yang terus menerus mengasihani dirinya sendiri. Seolah-olah gapunya andil kesalahan atas semua hal yang terjadi. Seolah bagian dari pilihan hidupnya yang dia tempuh ga memiliki resiko. Lalu semua itu jadi tanggungan orang lain. Tanpa dia sadar, ketika dia sibuk berbagi rasa sakitnya ke banyak orang di luar sana tanpa nyentuh akar masalahnya (dengan ngomong langsung ke sumbernya), dia merusak pandangan orang lain. Tiba-tiba peran antagonis ditentukan. Rasa rendah dan terinjak-injak nyelimutin hari-hari gue. Mau nangis disela ramainya kehidupan sekitar? Gabisa. Gaada air mata yang keluar. Apa orang lain tau? Engga. Ada juga orang yang merasa harapan yang dia bangun dalam beberapa bulan saja rusak. Padahal karena ekspektasinya sendiri dalam mencinta. Lalu orang yang tadinya ia hargai cuma jadi seonggok sampah di masa lalu. Ada lagi tipe yang paling gue benci. Manusia yang gatau cara berterima kasih. Manusia yang merasa hidupnya udah miserable enough sampe-sampe tanpa dia sadari, dia jadi manusia yang berharap orang memaklumi sifat dan kondisi dia. Gue juga susah, semua orang susah. Tapi gue gapunya waktu buat mikirin harga diri dan perasaan gue. Sedangkan di dia, it does matter. Percuma berdebat dengan orang bebal dan gatau dirinya andil berbuat salah. Orang-orang lupa kadang apa yang mereka anggap sebagai sumber kekecewaan mereka punya sisi lain. Sehingga siapa yang salah dan benar menjadi ambigu. Padahal, pada ujung ceritanya tidak ada yang perlu disalahkan. Semua yang terjadi memiliki alasan. 

Sejak hari itu, gue makin freak. Ngelakuin olahraga dan menyibukkan diri sama tanggung jawab gue. Semua itu gue lakuin buat nge-distract diri gue yang udah merasa setengah gila didalem. Bertingkah seolah paling rajin, paling rutin, paling mencoba tertata, padahal rusak. Emang ada yang sadar? Bahkan diri gue aja menolak untuk sadar. Sampe sekarang pun gue masih melakukan hal yang sama di hidup gue, survive.

"Fokus, fokus, fokus. Gue sakit, gue hancur, gue kecewa. Semua ini salah dia." Itu yang terus menerus gue liat dari matanya. Ambigu bukan? Pada akhirnya yang dianggap sumber atau subjek masalahnya yang menanggung mentalnya sendiri. Mereka lupa perasaan satu orang, lalu membunuh karakternya. Lupa kalo bebannya berkali-kali lipat bagi dia yang dipermasalahkan. Seolah-olah barang dan bukan orang, padahal gue yakin dia punya pilihan hidupnya sendiri. Pilihan kebahagiaan seolah bergantung pada kebahagiaan orang lain. Gaberhak bahagia atau menjalankan pilihan hidupnya karena ada yang merasakan kesedihan. Kehidupan ambigu macam apa itu?

Ini adalah ambiguitas yang gue gatau sampe kapan akan terus berlangsung. Gue cuma menaruh harap dan doa bahwa semua orang berproses. Gue berharap seseorang jangan pura-pura buta akan perasaan orang lain. Sampai suatu hari, jawabannya datang. Seorang laki-laki berumur 40 tahunan pernah berbagi cerita hidupnya yang pahit. Kehidupan cintanya di masa muda, rumah tangganya sekarang, dan pilihan hidupnya. Hal itu membuat gue sadar pelan-pelan bahwa memang Tuhan ga menciptakan hidup yang mulus ke semua umatnya. Balik lagi apakah kita terima semua ini atau engga. 

Satu quotes dari beliau yang mukul gue di malam itu dengan kondisi tangan gue yang bekas diinfus siang harinya:

 "Lu jangan sok ngalah lin. Perasaan lu valid."


Lalu ambiguitas di hati gue pelan-pelan terlihat jelas. Ternyata gue hanya perlu berhenti memaklumi. Gue disuruh ngeliat diri gue sendiri yang mulai membusuk karena terus ngubur apa yang gue rasain. Gue disuruh bangun dan lebih jujur sama diri gue. Bahwa gue berhak marah, berhak sedih, berhak berpikir bahwa apa yang udah terjadi emang harusnya terjadi. Berhak meneriaki balik ke beberapa dari mereka "lo ngerti gue ga? pernah lo liat apa yang gue rasain? emang cuma lo di dunia ini yang terluka?"

Gue balik ke rumah malam itu juga dan merenung sama nasihat sebelumnya. Gue nangis di taksi. Nyampe rumah gue bergegas ngunci pager, pelan-pelan lari keatas supaya ga mengganggu tidur orang tua gue, ganti baju, cuci muka, sikat gigi, dan terduduk nangis di depan wastafel kamar mandi gue. Ternyata gue secapek itu. Galupa gue nelfon seseorang untuk ngabarin kalo gue udah sampe rumah dan bilang "kalo aku ketiduran gapapa ya", dan gue terlelap bareng semua air mata yang ngalir di muka gue. Gue tidur dengan tenang.

Jumat, 18 Oktober 2019

So long

Dear Diary,


Oktober 2019. Gabisa disangkal ya tahun ke tahun berlalu secepet itu? Banyak hal yang berubah, ada juga yang masih sama. Gue menginjak semester 5. Rupanya gue masih survive disini. Gue semakin deket dengan apa yang gue kejar, tapi gue semakin takut ada gagal di akhir. Mungkin bisa dibilang ini adalah insecurity yang ga berujung. Ga akan tenang sebelum gue megang toga didepan ayah dan ibu gue lalu kita foto. But i'm glad this insecurities ain't hunting me every second. Gue beruntung karena sekarang gue punya banyak banget kegiatan dan ada orang yang nemenin gue. I've probably mess my life if i was alone for sure. Gue disibukkin oleh tugas yang ga abis-abis, gue dance, gue gym, belom lagi setiap dosennya demanding sama kuis. Mau ga mau di kampus lo liat buku, di kosan pun lo liat buku lagi. Cuma 2 - 3 jam aja gue pake buat main dota kalo gue stress banget. Sejujurnya makan gue keteter, laundry apalagi. Jangan tanya kamar gue kayak gimana (karena gue pulang malem terus). Secara fisik ya nyapein, tapi gue ga banyak pikiran kayak sebelumnya. Gue ga butuh cari minuman atau orang supaya gue lepasin penat gue. 

Waktu berlalu sejak start 5th term, haha hehe tautau udah uts aja. Semua mata kuliah makin advance dan gue semakin deg-degan apakah gue deserve masa depan gue yang menjadi seorang geosaintis. Gue mulai programming, belajar aplikasi dan software permodelan, gue pelajarin alat dan fungsinya, bahkan gue ke gunung buat ngedeketin diri sama alam. Ternyata bener, nyari jati diri gapernah sebentar waktunya. Ketika kita mikir kalo kita udah nemuin jati diri kita, datang lagi puzzle baru yang harus disusun. Beberapa bulan ini mental gue sangat ditempa. Kawan sd, smp, sma, bahkan jurusan fisika yang dulu gue sempet pijakin 2 semester udah pada update pake toga. Sedikit dan beberapa orang yang berarti pun ngundang gue dateng untuk nyemangatin dia. Gue datang. Datang,  bawa hadiah, nyelametin, bahagia, foto bareng, pulang...pait. Lucu ya? Gue ga ngefake kok. Betul di satu momen itu gue bahagia banget, bangga temen gue udah lepas dari semua bebannya dan tinggal lanjutin masa depannya. Gue cuma sedih karena gue akhirnya mikir lagi 'coba gue masih di fisika ya, mungkin gue foto sambil loncat lempar toga'. Sakitnya bukan main bayangin hal-hal kayak gitu. Soalnya kenyataannya lo disini masih berjuang buat uts dan uas, absensi mati-matian, nugas banyak, dan masih haha hehe ga tau judul skripsi nantinya mau tentang apa. 

Oh ya. Gue mau sedikit cerita tentang sahabat gue yang udah 10 tahun bareng sama gue. Namanya kania. Buat gue, dia orang yang funny, blunt, creative, and strong. Doi kuliah di Malang. Sempit waktu gue untuk ketemu sama dia dan sebelum pergantian tahun kemaren alhamdulillah gue abisin waktu bareng dia. Kita banyak foto-foto dan sharing deep talk tentang apa yang udah dilaluin selama misah. Gue tau struggle dia, dia tau struggle gue. Setengah tahun berlalu, gue denger kabar duka. Bokapnya meninggal karena sakit. Gue yang kebetulan lagi ada dirumah langsung nelfon Nadya dan ngajak kerumahnya. Sepanjang perjalanan kesana otak gue kosong, karena hari yang kayak gini datang secara mendadak. Gue gatau disana gue mau ngapain, gue harus berekspresi apa, dan apa yang mau gue omongin. Waktu itu gue janjian sama Nadya didepan smp 255, smp gue dulu. Terus kita jalan kaki dikit dan naik angkot ke rumah Kania. Sampe sana tempatnya udah mulai rame didatengin orang, gue ngelangkah ragu karena gue gatau apa yang Kania rasain disitu. Tantenya Kania nyuruh gue dan Nadya masuk, dan akhirnya gue ketemu Kania didalem. Hal pertama yang bikin gue kaget adalah doi masih baik-baik aja. Ga nangis dan lemes. Sedangkan nyokapnya dalam keadaan sedih. Sebagian dari diri gue bertanya-tanya apa yang kania rasain, sebagiannya lagi turut sedih liat kondisi nyokapnya. Jujur, ini pertama kali setelah 8 tahun gue mau ngelayat. Yap, gue takut ngeliat orang meninggal. Nano-nano perasaan gue disana. Panjang momennya sampe akhirnya ke penguburan, dan disitulah momen emosional gue dimulai. Siang terik, seiring jenazahnya mulai di adzanin, nyokapnya nangis, kania nangis. Disitu gue cuma bisa nepuk pundaknya karena gue juga sedih. Gue liat beberapa orang lainnya juga nangis. Pemakaman selesai, semua orang berdoa dan naburin bunga. Satu persatu pulang. Awalnya Kania cuma ngeluarin air mata doang, dan saudaranya ngajak dia pulang. But she insists to stay, so we stay with her. Tersisa gue, Nadya, Kania, dan Jihan di samping nisan bokapnya. Baru setelah sepi itu nangis Kania pecah ngelebihin yang sebelumnya. Ngeliat dia bisa nahan sedihnya dari awal sampe akhirnya tersisa ber4 doang bikin gue ikut nangis disitu. Sedalem itu rupanya luka dari orang-orang yang ditinggalin. Gue dan 2 temen gue meluk dia. Selang setengah jam habis dia nangis dan stand beside her father's final resting place, kita pulang bareng kerumahnya. Ngobrol-ngobrol ringan sebentar, habis itu gue dan Nadya balik.

Pikiran gue rumit di momen itu. Gue ngerasa gue ngerti apa yang Kania rasain. Dan gue salut banget sama dia karena dia masih jadi seorang Kania yang kuat. Bahkan lebih kuat dari gue. Kalo gue flashback, rasanya baru kemaren kita sekolah, jualan makanan dan nasi uduk buatan mamanya Kania buat tugas Mr. Arief. Nyemilin sosis + mie gulungnya alias makanin makanan yang mau kita jual. Baru kemarin rasanya kita ngomongin siapa crush kita, ngerjain LKS bareng-bareng, selfie alay, jogging pagi di hari Jum'at, dan bahkan ngebangkang pak Abdul. Gak pernah terpikir sama gue di masa itu kalo nanti ada hari duka dimana kita harus terus ngerangkul satu sama lain. Pikiran ini terus aja terlintas sampe akhirnya gue kembali ke rumah. Sebelum gue makin menyesal sama semua yang gue laluin, akhirnya gue memberanikan diri ngomong sama bokap gue soal kuliah gue. Awalnya di meja makan ada adek dan nyokap, tapi karena gue mau ngomong serius dan mereka berdua udah tau isi omongan gue apa, mereka melipir ke lantai atas ninggalin gue berdua dengan bokap. 

'Yah. Aku mau ngomong.'
'Iya, mau ngomong apa neng?'
'Soal kuliah'
'Ya.'
'Dulu aku di kick dari UI, aku bukan di fisika lagi sekarang. Aku ujian lagi jadi angkatan 2017.'
'....'

Dia diem. Sambil terus motongin obatnya sebelum dimasukin ke kotak obat mingguannya. Gue ngeliat raut yang ga marah, tapi mencari-cari apa balasan yang tepat untuk bales omongan gue. Diamnya dia 2 menit bikin gue nangis, karena gue ngeliatin seberapa tua sekarang dia, ngeliat papan tulis yang penuh tulisan dia tentang jadwal obat dan harganya, dan ngeliat semangat hidup yang dia perjuangin sampe detik ini juga. So long. Gue udah terlalu lama bikin seorang Ayah yang sakit nungguin gue wisuda. Setelah 2 menit yang pelan-pelan ngebunuh gue, dia buka suara.

'Gak apa-apa. Berat ya? Kejar lagi aja, jangan gagal lagi.'

21 tahun gue hidup baru disitu gue nangis seada-ada didepan orang tua sendiri. Gue yang gapernah nangis depan orang tua mecahin rekor di hari itu. Gue cerita banyak hal yang gue laluin dari mulai sekamar sama Fatin sampe akhirnya gue di bc ngejer SBM dan gapernah pulang. Gue lega di hari itu akhirnya gue jujur. Dia ngasih gue semangat dan contoh-contoh saudara yang udah kerja sekarang, gimana alur hidupnya, gagal engganya, susahnya kayak gimana. Katanya gue beruntung gue kuliah di negeri, karena 3 kakak gue dan bahkan adik gue Agas kuliah swasta. He said he was proud of me. Dia cuma nyuruh kalo bisa lebih cepet kelarin ya usahakan. Sekelar pembicaraan itu gue alibi mandi dan nangis di toilet. (iya ini alay maksimal tapi sedih banget gatau kenapa di momen itu. andai dia ga ngomong bangga ama gue mungkin gue masih bisa nahan. ya gue malu. gue malu karena gue udah banyak salah). Gue emang ga ceritain semua hal buruknya, tapi setidaknya garis besarnya udah. Kejadian di hari itu bikin bokap gue lebih care  sama gue. Gue sedikit sedih karena baru diumur gue sekarang gue punya pendekatan sama bokap. Selama ini gue cuma kayak dosen sama muridnya. Kalo ketemu discuss terus. Jaman sekolah doi strict banget, modem gue pernah diinjek saking seringnya gue main laptop di kamar dan gapernah nyaut kalo dipanggil suruh makan. Gue kayak catdog dulu. Ada aja debatnya. Gue sadar gue growing up sekarang, dulu gue berdebat karena gue cuma gamau keliatan gapunya pendirian dan makin dimarahin. Sekarang itu gaperlu. Yang gue tau gue harus bahagiain dia, sama nyokap gue tentunya. 

Udah ya mellownya. Balik lagi ke momen sekarang, gue lagi ngambis ngumpulin catetan temen gue dan gabungin ke catetan gue sendiri. Seniat itu biar gue galagilagi gagal. Motivasi gue memang cuma orang tua gue, kadang gue ngerasa sangat kurang , tapi gue gaboleh lupa bersyukur karena gue udah lewat dari setengah jalan dan cuma sedikit lagi sampe gue ke momen yang gue tunggu-tunggu selama ini. Buat yang lagi ngedown, unmotivated, broken-hearted,siapapun itu. Hey. Jangan nyerah sama apa yang lo kerjain. Mungkin lo ngerasa hidup gapernah mihak lo karena everything feels miserable. Tapi liat satu sisi deh, lo masih punya keinginan hidup kan? Lo takut mati. Lo masih mau lakuin banyak hal. Lo masih punya mimpi. Jangan dibuang. Kita gapernah tau didepan ada apa, jangan bikin waktu yang udah kita korbanin sama orang yang kita sayangin kebuang sama penyesalan yang gapernah berujung. Gue benci ngomong klise sebenernya, tapi berjuanglah. Lo ga sendiri. (Harusnya gue ngomong ini juga ke diri gue sendiri. Ya kita sama-sama motivasi aja lah ya). Cheers for the fool, cheers for the broken-hearted, cheers for the unmotivated, cheers for the hatred, cheers for the anger, cheers for the mourning. Cheers! *ngajak tos pake gelas*

Selasa, 25 Juni 2019

25th June

Ini cerita tentang seorang cewek yang gue temuin 3 tahun lalu melalui perspektif gue.
Warning : Apapun yang ditulis disini hanya terjadi di momen itu, dan bukan di momen sekarang. No offense untuk siapapun yang baca.

Gue masih inget, waktu itu 2016. Tahun yang menurut gue masih gelap pada masanya. Gue masih terjebak di suatu hubungan yang ga gue senengin dan gue harus jadi 'pengikut' orang yang gue ga senengin kemanapun dia pergi. Hari itu ada event di daerah Pluit, World of Gaming a.k.a WOG. Karena gue diharuskan ada untuk nemenin orang yang ga gue senengin kemanapun, gue datang ke event itu. Pada masa itu, gue sejujurnya menemukan titik cerah dimana gue mulai kenal Kanaya dan gue tau gue mau kemana kalo gue bisa lepas dari hubungan yang bikin gue lelah, tapi itu belum waktunya. Dramatically, waktu itu Kanaya vs Pondok Gaming AVS meet on stage dan pihak gue kalah. Disitu gue ada sisi puas karena orang yang ga gue senengin kalah dan Kanaya menang, tapi juga sedih karena yang tryhard untuk menang di PG AVS ga cuma seorang. So, 50:50. Disaster itu dimulai setelah udah kalah, orang yang ga gue senengin ngamuk di lobby Pluit Mall waktu itu dan ngusir 4 orang sisanya untuk balik ke hotel. Gue? Ya seperti biasa gue gaboleh ikut mereka dan gue harus tetep ada nemenin satu orang ini di mall (oh iya, maksanya sambil maki-maki pula. inget ini bikin gue rolling eyes). Rasanya jiwa gue udah mau keluar aja karena gue ga menikmati situasi di event itu. Gue mau pulang.

Disela-sela spacing outnya gue ditempat itu, gue duduk entah di deretan mana. Gue gapeduli, yang penting gue duduk, dan orang yang gue ga senengin terserah mau ngobrol sama siapa atau kemanapun. Gue gapeduli. Gue hanya lelah. Lalu pas gue duduk disitu ada seorang cewek yang menyapa gue dengan senyum.

Dia : "Hai, namanya siapa?"
Gue : "Halo. alin. Lo?" 
*ini gue jawab singkat karena gue ga tertarik dengan percakapan setelah semua hal yang udah terjadi hari itu*
Dia : "Jessica. Cici main games juga?"
Gue : "Iya, Dota 2. Kalo lo main games apa?"
Dia : "Wah sama! Aku juga main Dota. Eh ini kenalin samping aku, ini adikku. Dia main dota juga."

Disitu gue kenalan, habis itu gue lupa apa lagi yang terjadi. Gue cuma ngobrol basa basi sekilas dan gue kembali spacing out. Galama habis itu, gue pindah tempat duduk, dan gue hanya ikutin si 'God' yang mengatur-ngatur gue kemanapun dia melangkah. Pas udah malem dan gue duduk di emperan mall gue ngereka ulang apa aja yang gue udah laluin di hari ini dan terbesitlah soal cewek itu di pikiran gue. Akhirnya gue bertanya ke 'God' saat dia sibuk ngoceh gapenting tentang teman-temannya yang performanya buruk hari ini, "Cewek itu sebenernya siapa?", dan si 'God' menjawab "Dia ceweknya si X". Dalam hati, gue langsung "Oh". Kemudian gaada lagi yang gue pengen tanyakan, yang gue inget cuma senyumnya yang secerah matahari, dan keramahannya yang gakenal siapapun batang hidungnya. No enemies indeed. Perfect kind of woman. Kebalikan dengan gue yang super keruh ke siapapun saat itu. 

Setahun berlalu. 2017 datang. Akhirnya gue lepas dari semua hal yang mengekang gue.

Kanaya bubar, mencar jadi beberapa tim yang berbeda. Life goes on. Gue diterima di UI, dan gue menjalani hidup hectic gue menjadi maba lagi. Suatu waktu, Tri lagi libur dari boom dan nginep di barackx. Ramzi dan kawan-kawan ikut turnamen kampus. Gue cuma denger kabar itu via chat dan gue ketawa karena tumben-tumbenan ramzi ikutan yang kayak gitu. Galama setelah itu, gue denger cerita dari Tri tentang seorang cewek yang jago main Enchantress, punya passion besar di dota, dan dia lucu. Jarang buat seorang Tri ngomongin cewek, dan gue jadi sangat tertarik dengan siapa sosok orang yang dia omongin itu. Katanya dia punya tim, dan dia kenal Cheryl, temen lama gue. Namanya Jessica. Dia juga yang bikin Ramzi mau ikutan turnamen. (HAHA, dan lucunya ya Ramzi terlalu obvious. Gue langsung ngeh bahwa Ramzi punya ketertarikan sama cewek ini). Berhubung di turnamen itu ada beberapa kejadian yang diceritakan pas gue nongkrong sama mereka, akhirnya terdoronglah gue untuk nge-stalk siapa Jessica. Gue cukup antusias karena gue niat kenalan setelah denger tentang dia yang punya passion sama dota.

Clicking , scrolling the photos. Butuh waktu cukup lama buat gue menimbang-nimbang apa gue pernah liat sosok perempuan ini sebelumnya. Cukup lama sampe akhirnya gue bener-bener ketemu langsung di sebuah warnet cafe di daerah Jakarta Barat. Gue request Tri untuk ikutan nongki karena rasa penasaran gue yang besar soal Jessica. Akhirnya kita makan di Pizza Hut tepat disebrang warnet cafe yang pertama kita ketemu. Gue ngobrol, bercanda, dan tentunya ngecengin Tri karena gue tau apa yang dia rasain ke Jessica. Kesan gue saat pertama kali ngobrol banyak, gue langsung ngerti kenapa dia adorable banget dan asik untuk dijadikan teman. Gue seneng karena dia orang yang baik. Galama sebelum cabut dari Pizza Hut, dia bilang 'Cik, kita kan pernah ketemu dulu.'. Gue kaget. Gue mencoba inget ulang tapi gue gatau kapan dan dimana. Akhirnya , gue nanya 'Oh iya? Kapan?', dan kemudian dia jawab 'Itu loh yang event WOG di Pluit. Aku yang ngobrol sama cicik pas lagi duduk.'. Yang ini gue speechless. Gue bisa lupa sama sosok dia selama setahun, dan malah dia yang inget gue, padahal keberadaan gue disitu waktu itu rasanya udah kayak hantu aja. Pengen ngilang. Gue lupa betapa samanya dia setelah setahun berlalu dan berbedanya gue setelah setahun berlalu. Dia bikin gue sadar bahwa dunia ini sempit. Gue dipertemukan dengan dia di dua fase yang berbeda 180 derajat, dan gue kagum karena dengan gue yang berbeda pun dia tetep seasik kayak pertama kali kita ketemu di WOG.

Hari berlalu, bulan berlalu. Gue jadi temen yang iseng nongki sama dia kalo sempet, main dota party untuk fun, juga janjian kalo ada event di mall. Semuanya berlalu gitu aja. Tapi masih ada dinding antara gue sama dia, karena dengan gue yang traumatik deket sama cewek, gue gabanyak cerita soal diri gue. Sampe suatu saat di sebuah event di Taman Anggrek Mall, dia buka conversation. Saat itu kita baru balik dari kamar mandi dan mau turun lewat eskalator. 

Dia : "Cik, cicik kenal 'God' kan?
Gue : "Iya kenal, dia mantan gue. Kenapa?'

Terjadilah cerita panjang soal apa yang si 'God' lakuin sehingga bikin seorang Jessica kesel dan ga nyaman. Disitu gue gahabis pikir , kenapa bisa orang kayak dia malah kesangkut masalah yang menyebalkan kayak gitu. Berhubung gue belum lama kenal dia dan saat itu si 'God' masih stalk snapgram dan ig gue, gue pun planning a revenge. I'm asking her to take selfie with me and i would like to upload it on the instagram. Kerennya, she's cool with it. Then we go for a revenge. I tagged her as if we're a really good friends. Dan gue pun mulai terbuka sedikit sama apa yang gue laluin juga selama kenal sama 'God'. Lama gaketemu, habis itu dia liburan, dan dia bawain gue oleh-oleh dream catcher with a cute message on top of it. Gue terpikirkan untuk beliin dia souvenir balik. Sejujurnya gue cukup heran kenapa dia mau beliin gue , ramzi, dan yang lainnya souvenir padahal kita belom lama kenal. Kenapa ada orang yang se-humble itu ke orang yang baru dikenal. Gue yang takut dia fake ke gue kayak orang yang lainnya, mulai ngubah pandangan gue ke dia. What i really thought is, she's a good person in every perspective. Dia ninggalin kesan yang bagus untuk gue yang bahkan selalu mikir bahwa gaul sama sesama cewek sekedar untuk business aja, nothing personal.

Waktu terus berlalu, dan sekarang 25 Juni 2019, gue udah laluin hal-hal lucu sama dia. Hang out kalo lagi sempet, ketawa, nangis, nginep bareng, ngomong kasar kalo kesel, bawel ditelfon kalo lagi butuh temen cerita, dan planning on a trip if we get a chance. Gue pun mulai kenal bahwa dia melalui banyak masa sulit selama ini dan ga se-perfect yang orang kira. She struggles so hard, and i thank her for trusting me with every stories she holds on herself since forever. Oh right, here it is.

"Happy Birthday Sunshine.
May God always bless you with His grace. Keep being you, lessen the fake, talk loudly, hold strongly, smile brightly, and don't forget to thank every moment you had till now. Don't ever escape despite any situation you face. Makasih udah jadi temen yang bisa nangis buat gue, ketawa sama hal yang receh, cengengesan untuk menghindari badmood, dan random karena bisa nyablak gaada angin gaada hujan. Jangan pernah capek untuk jalanin kuliah karena gue percaya, rutinitas yang menyebalkan mempertemukan lo dengan orang-orang yang mau nemenin lo disela-sela rutinitas lo itu. Keep fighting, gue lebih suka lo ngeluh tapi sambil tetep lakuin semuanya. Karena power lo disitu. Kembangin semua kreatifitas lo saat ini dan selesain semua yang memberatkan lo supaya lo cepet bebas. Gabanyak yang bisa gue katakan karena seperti biasa, gue gapinter nyusun banyak kata. Woof you always."

Your Admirer,
Alin


Thanks to you , gue percaya sama apa yang namanya takdir. Gue ketemu lo 3 tahun yang lalu dan sekarang gue bakalan mulai menghitung pertemanan kita setiap tahunnya. Gabanyak yang bisa gue kasih, semoga lo tetep mau temenan sama gue kedepannya. Daaaaan jangan pernah nyalahin diri sendiri dalam waktu yang lama. Semoga langgeng sama Rey. Doa gue menyertai. 

Jumat, 26 April 2019

Dear Diary,


Today i learn that i might not seeing my process but the others did. They think i work on it. But honestly i doubt myself i've done my best because i haven't see the result yet. I still think that i would fail several aspects. Two man had been stood on a room with me for about 3 days and we talk a lot about life. I learn that everyone has their zero points and i might not see it. Why? Because i ain't close to them. Who says everyone perfect? Well yeah, no. It's just... i had no qualities to be compared to anybody. I mean, how bad anyone on the past wouldn't matter if you had meet your process and be a good guy in the present. And i don't think i had reach that one yet. 

You can call me a self-centered person, but i felt like everywhere is a dangerous place. No place would suitable for me to stay. Anyone can stab me in anytime. I had this so-called anxiety which has mindset : 'Hey do you know her? That epic story. That one bitch with his trashy ex. Long time ago she .............' . You'll think i'm crazy for always putting such negative thought on everyone but i'm not blind. I could sense how people see me. I'm not that stupid and optimistic to plainly believe that it's just my imagination. What i really wondered is, how come people can survive that kind of situation? I truly haven't been able to survive. I'm always seeking for a protection by being such an anti-socializing person who stays passive unless you showed me and spit it out on my face that i'm a human who deserve to live happily also. I need that one kind of words that prove me i'm not a bad person, i'm not a monster, i'm not a failure, etc. 

How can people accept me despite of my past? Well i'm not an attention-seeker, nor a type of person who'll asking everyone to love me. I'm tired. I had giving up on my real life environment just because i think i had enough people who accept me for who i am. But here is the problem, every time i should go out of my comfort zone i feel like i can't hold on. Till when i'm gonna stay in my own shell. Till when i'm gonna scared of how people stared at me. Who's gonna pull me out of my shell.

From what i get just 2 hours ago, no matter how my past is, it's in the past. If i could be a successful person (i hope so , someday) i could prove that i went on my zero points and i fix it by becoming the best version of myself. 

Things i should avoid for now : Fake people, 'a pretend-that-i-don't-know-your-problem-unless-you-tell-me-your-shit people, an escaper, and 'a-pretend-like-we-have-no-problem-at-all people. 

No one specifically mentioned because i think no one gonna suit this until they do it them self. And i'm in a comfortable state enough to put my wall for a while so i can reduce all this lousy brain. I need peace. Just so you know if i'm still talking to you with a respect even if i'm seldom texting you it means you haven't done anything wrong. It's just me and how i'm managing this messy emotion.


Senin, 15 April 2019

Reset

Monday, 15th April 2019
Dear Diary,

Hari ini gue memutuskan untuk memulai semuanya dari nol lagi. Gue masih mikir apakah ini sekedar gue yang mendadak ga mampu ngendaliin emosi gue sendiri beberapa bulan ini atau emang kondisi gue yang sekarang lagi ngepressure di segala sisi. Saat pergantian tahun kemarin, gue netepin goal hidup gue sekaligus pencapaian kecil apa yang bisa gue improve seiring waktu. Di malam tahun baru itu, gue cuma berdoa biar gue jadi pribadi yang lebih besabar, ga over-thinking, dan lapang dada. Baru 4 bulan berjalan dan ternyata semuanya berantakan. Gue merasa diri gue diuji melebihi batas kemampuan gue. I can't handle shit as if i've never face it before. It's like i'm walking in a whole loop with a rigid road. Everything's at the bottom felt so hard and broke. 

Bukan pertama kalinya buat gue ngalamin perbedaan , pengasingan, ataupun penghianatan. Mungkin ini kedengeran lebay, tapi itulah yang gue lewatin sepanjang 4 tahun kebelakang. Yang ngebuat gue ngerasa gue kembali ke titik nol adalah karena gue ga mampu nge-hold semua yang gue rasain kayak biasanya. I distrust people. A lot. Even the closest one feels like a sharpened words day by day. Alam bawah sadar gue sebenernya tau bahwa gue sebenernya ga se-miserable itu , masih banyak yang peduli dan nyemangatin gue. Tapi kenapa bahkan kata-kata : "have a nice day!" , "semangat!" , "lo pasti bisa." terasa klise buat gue?

Spending my time to think about it, gue nemu akar masalahnya dimana. Semua ini diawali dari hal yang terulang lagi, untuk kedua kalinya. Ini soal gue yang mencoba mendekatkan diri gue ke kodrat gue sebagai perempuan. Gue nyoba untuk senormal mungkin dengan bergaul akrab sama sesama cewek. Ngebuka pintu hati gue buat nyambut orang yang mau masuk ke kehidupan gue. Seperti yang udah - udah, 4 bulan berlalu and things didn't go well as i expected. I fight for no particular reason and i didn't even understand why she start the fire. Hal ini bukan soal apa yang dia lakuin bikin gue nyelekit, tapi kenyataan bahwa gue cukup bego untuk bisa sampe ada di kondisi ini. Fakta bahwa gue itu cuma kambing dongo yang ga dengerin nasihat orang lain sebelum gue ngambil keputusan gue. Gue gagal lagi. Gue gagal mencegah diri gue sendiri terlibat sama masalah yang gaperlu. Itu ngelukain harga diri gue. I've been trying to tell myself to focus on my own priorities and forget the unimportant issues. It's been 2 months and i can't get over the fact that i failed myself. Gue mikir dan mikir dan mikir dan mikir terus : Salah gue apa? Kurang gue apa? Apa gue gapernah berubah ke arah yang lebih baik? . Gue jadi ragu sama diri gue sendiri. 

Selain itu ada kondisi yang mendukung gue makin ngerasa diri gue worthless. Iya, cara orang memperlakukan gue. Gue selalu ngerasain perbedaan drastis dari orang-orang tertentu dalam memperlakukan orang yang gue peduliin dan diri gue. Perbedaannya jauh, dan gue selalu ngerasa gue terlihat buruk / ga baik seolah gue pernah bikin kesalahan fatal sebelumnya. Jujur, ini ngebuat gue sakit hati setiap kali gue harus keluar dari lingkaran gue sendiri. Gue gasuka dipandang buruk. Gue takut dipandang buruk. Whenever that kind of situation happens, i feel like, i have no place to stand. Nowhere to go. I'm on my own feet. Gue emang ga minta semua orang untuk suka sama gue, tapi suka atau gasuka , haruskah gue tau? haruskah gue ngerasain apa yang lo rasain ke gue? Salah gue apa? Apa eksistensi gue yang salah disini? Did i even belong here? Dimulai dari lingkungan yang pernah terpaksa gue tumpangin selagi susah, sampe di circle gue sendiri. Gimana gue mau percaya sama orang lain. Gimana gue ga emosi sama hal-hal kecil yang bikin gue ngerasa gue ga dihargain atau gue ga sepenting itu. Gimana gue ga muak sama kondisi gue. Gimana gue mau hidup positif dan tetep jalanin semua tanggung jawab gue kalo gue ngerasa gue gapunya apa-apa dan siapa-siapa. Gue hampa. Yang gue rasain di diri gue cuma sakit, yang ada di otak gue cuma semua kejadian yang udah-udah dan fakta bahwa gue survive sendirian. 

Maka dari itu gue memutuskan untuk nge-reset hidup gue. Sampe akhirnya gue bangun dan sadar sama apa yang bener-bener gue punya dan apa yang cuma sekedar kesempurnaan yang gue kejar. Maaf kalo mental gue lemah. Gue minta maaf. Tapi gue lelah. I'm a human too, you know?

Kamis, 02 Agustus 2018

Holiday's Random Thought

Hey-o! Tebak ini tahun berapa? Ya, tahun 2018. *tanya sendiri jawab sendiri kayak dora the explorer*

Sejujurnya gue memiliki banyak waktu untuk ngetik, tapi emang bener yang namanya inspirasi ga segampang itu datang. Tulisan keluar kalo hati lo mulai banyak bicara. Sebagian mungkin penasaran (atau mungkin malah bodo amat) tentang gimana gue melalui hari di tahun ini. Sebetulnya, not bad. Iya, not bad. Semua ga harus gue dramatisir karena gue rasa masih banyak orang yang ngalamin hal seperti yang gue alami. Contohnya adalah ketika dosen lo kasih lo nilai E ketika nilai lo sangat amat outstanding hanya karena lo telat masuk kelasnya 3x. Terima kasih pak btw. Saya jadi belajar bahwa saya harus hidup lebih giat lagi. Terlebih gue memiliki kemajuan, gue mengurangi kadar gue main Dota. Literally udah jarang banget, dan sisanya gue isi hidup gue ke arah yang lebih 'real' semacam masak, ngepel, nyapu, review beasiswa, nonton drakor dan reality show drakor, jalan kaki ke laundryan atau warteg, dan terkadang hanya tidur-tiduran yang ga produktif. Sepanjang liburan ini galupa gue isi dengan bengong-time, dimana gue berpikir apa yang gue butuhin saat ini, apa yang lagi gue pengen, dan apa kewajiban gue. 

Setelah 3 bulan udah berlalu dan ini udah Agustus, gue mulai tergerak untuk ngumpulin niat gue lagi. Ya walaupun semester kemarin kayak hell karena gue dikasih nilai yang tidak senonoh tapi gak masalah lah. Btw adik gue sedang berjuang untuk dapetin universitas sekarang ini. Ga kerasa dia udah dewasa. HIKS. Dan disini gue masihlah crybaby yang nyantai dan pemalas. Padahal gue hidup sendirian. Setiap bengong gue terlintas sedikit pemikiran tentang gimana behaviour gue ke orang lain belakangan ini. Jujur, gue sangat amat ketus dan dingin. Bukan karena gue benci mereka, tapi gue rasa gue lagi sangat amat membenci diri gue sendiri. Gue pun gatau gimana ngobatinnya. Yang gue sadar, gue emang butuh orang lain, butuh keluarga. Iya itu aja cukup. Gue butuh hidup ga kayak robot. Sebenernya pernyataan ini gue yakinin banget karena gue sadar gue orang yang terlalu logic banget sampe-sampe untuk ngaku gue butuh temen-temen gue aja gue masih mengedepankan pride gue. Entah karena gue benci dipandang lemah, entah juga karena gue bukan benci melainkan itu bentuk ketakutan gue diliat rendah. Practically it was the worst thing i can't even handle right now. Tapi gue tau sih, semua orang punya hidupnya masing-masing dan gue pun sadar bahwa gue juga sebenernya betah hidup dengan cara gue. Gue ga muak dan benci sendirian, gue cuma ga punya gairah hidup aja. Semua rasanya abu-abu, makanya gue butuh warna lain yang bisa diisi ke hari-hari gue. 

Ngeliat ke dua bulan kebelakang ini banyak hal yang ga gue expect justru terjadi. Dari mulai orang yang nilainya di hidup gue besar dulunya datang lagi, sampe temen penipu yang gue kira udah taubat malahan masuk kantor polisi, denger masalah temen yang lumayan berat, IP rasa diputusin pacar (hancur berantakan) karena alasan yang ga masuk diakal, adek ga lulus sbm, kakak nikah ntar tanggal 18. Banyak. Semua rasanya nano-nano sampe gue bingung apa yang harus gue ekspresiin. Gue cuma ngelanjutin hidup gue. Begitukah sekarang kan cara menjalani hidup ala orang dewasa? We care but there is no such thing we could help because we need to help ourself first. Or am i supposed to care? I don't know. Gue gayakin bahkan diri gue udah dewasa apa belum. Apakah orang-orang kayak gue yang masih nyari cara hidup yang benar itu udah tergolong orang dewasa? Padahal umur gue 20 tahun.

Beberapa waktu lalu ketika gue galau akibat nilai gue , ada seseorang yang dulu nilainya berarti banget buat gue ngehubungin gue setelah sekian lamanya dia gapernah ada kabar. Ini hal yang bener-bener ga gue duga. Dia nanya kabar gue, ngajak makan dan ngobrol untuk tau apa yang udah kita lewatin masing-masing selama 1 sampe 2 tahun kebelakang. Kita ngobrol banyak hal yang berhubungan dengan akademis, juga hal yang fun, yang lebih menariknya lagi juga kita bahas soal kegiatan apa yang lagi kita giatin. Gaada bahasan masa lalu yang pait dan gue bersyukur gue sama dia gaperlu kembali kesana. Bagi gue, butuh keberanian yang besar buat seseorang untuk mengingkari atau mengubah prinsip yang udah dia bangun sebelumnya. Yang gue maksud disini adalah memulai sebuah obrolan itu ga mudah. Dan ini yang terjadi. Dia bisa ngontak gue dengan nyantai malah ngebuat gue bersyukur karena gue udah dikasih kesempatan buat sekali lagi ngeliat keberaniannya dalam ngambil keputusan. Doi cerita mau  mulai hidup yang bener-bener hidup mulai saat ini dan gue ikut bahagia dengernya. Pada akhirnya beban 3 tahun kebelakang ini rasanya ngurang, gue mulai berani nge-list yang mau gue lakuin lagi, dari awal. Dari sini gue berharap gaada lagi desperate time buat dia. Cukup 3 tahun kemarin aja dan gue berharap yang terbaik buat dia.

Let's talk about my dark life. Habis orang-orang baca ini, gue ga berharap pembaca tetap disisi gue, gue hanya belajar jujur dari tulisan panjang ini. Setelah gue berlibur ke Bali dari mulai Kamis-Selasa itu, gue mulai sadar gue ga sendirian. Gue gangerti lagi harus ekspresiin rasa sayang gue lagi gimana ke keluarga gue yang udah jalanin berhari-hari liburan sama gue. Finally i could say sweetly that i love them beyond myself. Dulu gue takut ngakuin hal-hal yang kayak gini, karena yang gue tau pas gue ngakuin hal ini justru orang-orang yang gue cherish pergi. Itu mimpi buruk gue. Gue baru tau ada orang kayak mereka yang mau nerima kurangnya gue, buruknya gue, bad jokesnya gue, dan pilihan hidup gue. Ini bukan soal we gettin' drunk in the club to feel alive. There is no such thing as that. Sebagian besar mungkin berpikir gue dan temen-temen gue hanyalah party animal. Ini persepsi yang mau gue ubah. Dulu gue bukan orang yang mau semenyimpang ini, gue tau batas gue dimana. Semua ini berubah pas gue udah gabisa sama-sama lagi. Pas gue tau waktu gue mulai sempit untuk sama-sama lagi. Pas gue sadar bahwa masalah yang dipunya masing-masing udah gabisa ditanggung bersama lagi. Alhasil inilah jadinya. Gue ga bilang bahwa gue adalah orang yang bener. Gaada pembelaan yang tepat buat ngeiyain setiap pilihan yang gue ambil. Setiap masalah di individu gaada yang gampang, semua punya takaran masing-masing dan masih banyak penyelesaian yang baik untuk nanganin diri sendiri. Alasan pribadi gue ngambil jalan ini karena gue rasa gue gamampu ngebebanin lebih banyak lagi masalah hidup gue ke mereka yang juga punya banyak masalah berdatangan dihidupnya. Kadang sedihnya, saking semua hal yang terbendung di hati gamampu lagi dibicarain jujur lewat mulut gue, butuh yang namanya mood dan mood itu terjadi pas gue ngumpul bareng. Jujur gue terbilang orang yang sulit buat drunk. It's for real, i can't get drunk easily. Tapi karena mood itu emang datang setelah gue ngeliat yang lain drunk dan mereka ngomong jujur, disitulah akhirnya gue juga suka panjang lebar ceritain semua keluh kesah hidup gue. Pas di Sky Garden Bali kemarin gue ngeliat banyak hal yang dulu jaman masa kecil orang tua gue larang untuk diliat atau diikuti, dari situ batin gue bilang 'ranah gue bukan disini. gue gabisa begini dan gaakan boleh sampe kayak yang gue liat'. Disitu gue dengerin DJ mainin lagu yang suka gue dengerin di youtube, dan ada banyak all you can eat yang enak. Semua orang gapeduli sama apa yang diliat, they just mind their own business. Mungkin karena gue sadar di masa depan gue udah determined untuk gak sama sekali ke arah yang salah, gue berpikir ini saatnya gue nikmatin masa muda gue. Iya, gue nari gue loncat, gue foto bareng rame-rame, saling megang bahu, ketawa ketiwi, and cheers also. Itu hari terbahagia gue. Gue lelah loncat-loncat dan nari tapi gue bahagia karena gue ngeliat orang-orang ketawa lepas di momen itu. No problem, no shit happens, no sad vibes. Walaupun gue sadar hal-hal yang kayak gini gabisa sering dilakuin karena gue yakin lama kelamaan gue nerima apa yang ga seharusnya gue terima. Cukup sampai sini perspektif gue tentang sampai mana gue harus berlaku. 

Selama di club mata gue ga berhenti natap orang-orang sekitar, ada juga orang yang bener-bener sendiri dan berdiri sedih, berharap ada orang yang lewat meluk sambil berkata 'you will be okay'. Yap, se desperate itu orang dan gue mulai paham rasanya seperti apa. Banyak strangers dengan gender yang sama gue temuin bisa jauh terlihat lebih ramah dan manusiawi dibanding gue ketemu sama orang yang hari-harinya gue temuin. Ironis emang, zaman udah berubah. Gue bingung kenapa perempuan yang ngerokok dulu gue cap buruk dan rusak sekarang rasanya udah ga seburuk itu lagi. Gue emang gabisa menyamaratakan itu semua sih. Emang tetep yang dari sananya perangainya buruk dan emang mau rusak ya udah gitu aja, dan orang di keseharian gue ga semuanya buruk, tapi pandangan gue untuk ga ngejudge sebelah mata sekarang lebih luas. Gue mulai dapet kenapa orang di bar atau di club lebih ramah dan lebih pengertian satu sama lain walaupun kita ga saling kenal. Itu karena mereka mikir 'we are here means we had our choice to re-think about ourself. We got our own problem. Don't need to add more'. Itu yang gue dapet pas gue ngeliat mereka. Bahkan untuk hal kecil yang ga disengaja, kata maaf lebih mudah terlontar dengan tatapan yang tulus dibandingin orang-orang yang kurang mensyukuri hidupnya dan malah sibuk ngejudge hidup orang lain. This is life, and i'm tryin' to get along well with it. Dari tulisan panjang gue ini gue ga pengen para pembaca maklumin apa yang gue lakuin ataupun lontarin. Gue cuma pengen nekenin bahwa semua manusia sama, semuanya punya keinginan buat hidup, pengen bahagia juga, pengen jalanin goalsnya juga but sometimes not everyone can handle shit as strong as you do. So, respect adalah hal yang tepat buat ini semua. Bahkan kalo ada yang bisa bantu ngarahin ke arah yang bener ya mohon bantuannya. Hewan aja butuh kasih sayang , apalagi manusia ya kan? Pembicaraan ini jadi kemana-mana karena gue bahas soal dark life tadi. Maaf ya btw :( gue bukan penulis yang baik seperti yang kalian kira, gue masihlah anak remaja yang mau sok-sok nyari hidup, sok-sok ngambil jalan yang rigid biar mental kebangun tapi apalah daya gue hanyalah manusia yang masih belum bisa nelen bulet-bulet paitnya hidup. Gue harap jangan ada yang ambil jalan kayak gue. Pendekatan sama Tuhan adalah hal yang paling bener untuk saat ini. Setelah baca ini gue berharap semua isi pikiran gue yang random ini mampu memotivasi diri lo sendiri untuk semangat jalanin hidup. Inget, hidup cuma sekali jadi jangan sampe fail. hehe. Sekian dan mon maap atas diri gue yang sok wise.

See you on the next reading.